Kamis, 08 Januari 2009

Mahasiswa Apatis, Kamu?


[April 08]
versi asli dari tulisan yang disebar di kampus 'Kaleidoskop Mahasiswa, Dulu dan Sekarang'



Bismillah..

22:41..


Artikel ini hanya baris kata-kata yang ditulis oleh seorang mahasiswa, tentang mahasiswa dan untuk dibaca oleh mahasiswa..

Kaleidoskop ‘Zaman Dahulu’ dan Sekarang

‘Zaman dahulu’, 11 tahun lalu, dunia menjadi saksi tumbangnya rezim otoriter sangat represif yang telah berkuasa selama 32 tahun di Indonesia. Jangan pernah anggap remeh kekuatan rezim ini, karena pilar-pilar penyokongnya tidak hanya tertancap di nusantara, namun bercokol di seantero dunia. Siapa yang menyangka kekalahan diktatorian ini sedikit banyak dipicu ‘hanya’ oleh aksi yang dimotori mahasiswa? Namun begitulah faktanya.

Masih ‘zaman dahulu’, 30 tahun lalu. 1977, satu sejarah yang tak banyak diketahui dunia. Penyerbuan kampus-kampus di Indonesia, termasuk ITB. Tak tanggung-tanggung, tentara yang ditugaskan ‘menyerbu’ kampus adalah Kodam VIII Brawijaya, suatu ‘pasukan perang’ yang baru saja pulang bertugas dari Timor Timur! Terlihat bahwa gerak represif pemerintah terhadap kampus disebabkan ‘aksi terlalu peduli’ mahasiswa dalam mengkritisi pelaksanaan pemilu ketiga di Indonesia.

Aku hanya mengutip 2 peristiwa yang terjadi pada ‘zaman dahulu’.

Sekarang, mari kita perhatikan keadaan saat ini. Sederet peristiwa telah terjadi, namun, apakah mahasiswa peduli?!

Tahun 2000, ITB memulai program separuh BHMN sebagai kampus pertama yang melakukan langkah awal BHMN-isasi kampus se-Indonesia. Hal ini jelas termasuk langkah2 privatisasi pendidikan yang merugikan masyarakat. Mahasiswa diam.

Tahun 2006, tambang minyak baru nan melimpah ruah ditemukan di Cepu, namun ‘entah mengapa’, pengelolaan (baca:pemanfaatannya) harus mengikuti perbandingan 45:55 antara Pertamina dengan Exxon Mobil, AS. Mahasiswa bungkam.

Tahun 2008, masalah BLBI mencuat kembali. Tak tanggung-tanggung, negara merugi 400 trilyun lebih! Selain itu, juga tersiar kabar rencana swastanisasi PLN, ditengah kondisi masyarakat yang kian sulit dan terbukti dengan kasus kelaparan yang terjadi di Makasar. Apakah mahasiswa bersuara?

Lalu Kita?

Kawan, aku hanya mencoba menuliskan kembali serentetan peristiwa yang pernah terjadi, dan membandingkannya dengan keadaan kita saat ini. Persoalannya adalah, cukup pedulikah kita melihat ketidakpedulian mahasiswa selama ini?! Tidak hanya di ITB, tapi juga di pelosok kampus seantero tanah air. Pedulikah kita melihat tingkat ‘kepedulian’ mahasiswa terhadap masyarakat yang makin tereduksi, sehingga hanya menyisakan sedikit rasa peduli pada diri sendiri?! Atau justru saat ini kita tengah terbuai menikmati dan ikut ambil bagian dalam komunitas ini?! Komunitas yang siklus berpikir dan bertindaknya beriorientasi hanya pada profit. Pada keuntungan. Pada nilai tanpa makna. Komunitas yang sepakat bahwa ‘kuliah’ adalah perdagangan, bisnis. yang keuntungannya akan dipetik ketika telah bekerja pada perusahaan2 bonafid dengan gaji puluhan juta rupiah.

Jika pola berpikir seperti itu telah mengakar urat pada mahasiswa negeri ini, wajar jika kehidupan kampus hanya diisi kegiatan ‘belajar’ dan ‘bersenang-senang’, yang diakhiri dengan pencarian koneksi untuk menemukan ‘lapangan pekerjaan’. Selesai. Sedikit sekali esensi yang dapat diambil apalagi dirasakan oleh masyarakat, oleh umat. Lantas kalau begitu, apa bedanya kampus kita ini dengan lembaga kursus, yang khusus mencetak karyawan-karyawan professional?! Murni knowledge transfer, tanpa value.

Kawan, kampus tidak hanya wahana untuk mempelajari kalkulus, fisika, kimia, sistem utilitas, termodinamika, dsb. Tidak hanya itu. Namun lebih dari semuanya, kampus merupakan wahana untuk mempelajari kehidupan. Mempelajari masyarakat, dan mengaplikasikan segala macam ‘ilmu’ yang kita dapat di kelas dalam kehidupan kita, Masih ingat saat OSKM dulu?! Sering sekali dikumandangkan bahwa kita adalah segelintir orang yang beruntung dapat merasakan status dan fasilitas intelektual sebagai mahasiswa. Kita-lah orang-orang yang beruntung berstatus mahasiswa ITB dibadingkan 238 juta penduduk Indonesia. Kita-lah tumpuan harapan umat untuk mengatasi segudang masalah yang tengah merajalela! Kita! Bukan orang lain! Wajar bukan jika kukatakan kita punya kewajiban untuk menolong umat, dan meningkatkan kemajuan peradaban manusia. Setuju denganku?!

Persoalannya, tidak mungkin kita mengatasi masalah umat bila kita tidak pernah peduli dengan keadaan masyarakat. Dengan akar permasalahan masyarakat. Atau bila kita hanya melulu disibukkan dengan ‘karir akademik’ ditambah mimpi ‘karir bonafid’ di masa depan.

Islam bilang..
Sebelumnya, jangan underestimate dengan sub judul diatas. Masalah kemahasiswaan pun masalah yang terkait dengan Islam. Sangat terkait bahkan. Islam sangat mendukung kemajuan ilmu pengetahuan sangat mencintai orang berilmu dan mendorong manusia untuk mencari ilmu setinggi-tingginya (QS. Al-Mujadilah:11, HR. Tirmidzi, dll).

Masalahnya, Islam tidak hanya mewajibkan manusia mencari ilmu saja, tapi juga menuntut pengaplikasiannya dalam kehidupan. Tidak hanya dalam kehidupan individual, namun juga dalam masyarakat. Bukankah sebaik-baiknya ilmu itu adalah ketika ia telah diamalkan? Tidak hanya sekedar merambah ranah teoretis menjadi lembar-lembar jurnal yang memenuhi sudut perpustakaan.

Kawan, ‘Ilmu’ yang kita pelajari setengah mati selama 4 tahun di kampus ini bukanlah segalanya. Ia hanya ‘tools’. Alat. Kita-lah yang menentukan, digunakan untuk apakah alat itu.. Tak jauh berbeda halnya seperti pisau tajam, yang dapat digunakan untuk membunuh orang atau sekedar untuk memotong kentang.

Setajam apapun pisau, atau ‘tools’ yang kita miliki tidak akan berarti apapun jika kita tidak tahu cara penggunaannya. Jika kita hanya memfokuskan pencapaian diri kita pada penguasaan ilmu itu saja, tanpa memahami esensi dan filosofi ‘akan digunakan untuk apa ilmu ini’, nothing’s we get! Orang lain yang akan mengarahkan kita, dan kita akan selalu menjadi ‘pekerja’. Mungkin memang kita akan mendapat gaji puluhan juta dari Caltex atau Schlumberger, tapi benarkah hanya materi yang kita cari?! Bukankah Allah sendiri telah menawarkan surgaNya yang seluas langit dan bumi? Dan ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amal jariyah yang tidak pernah berhenti mengalir pahalanya, selamanya.

Kawanku Mahasiswa muslim ITB, aku yakin, kita semua telah cukup dewasa untuk memahami esensi penciptaan diri kita. Tak perlu lagi dibahas panjang lebar bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya bukan?! Aku pun yakin, bahwa kawan semua telah menyadari bahwa saat ini umat Islam tengah berada dalam keadaan terpuruk. Sakit secara multidimensional. Masalah publik umat tidak bisa diselesaikan dengan baik dan menyebabkan penderitaan disana sini. Pendidikan. Kesehatan. Energi dan listrik. Pelayanan umum. Ekonomi. Dan masih banyak lagi masalah yang melingkupi umat. Ketidakadilan terjadi dimana-mana, dan umat islam tidak dapat berbuat apa-apa melihat kekayaan alam negerinya dirampok tangan-tangan asing yang entah kenapa, ada dimana-mana. Mengalirkan air mata penderitaan.Tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia.

Kawanku mahasiswa muslim ITB, tidak dapat dipungkiri, posisi kita sebagai manusia yang diamanahi kecerdasan dan intelektualitas tinggi ditambah dengan status mahasiswa di Institut ternama yang ‘didengar’ di negeri ini memiliki kekuatan tersendiri.

Umat membutuhkan kita, intelektual muslim yang akan menyelamatkan dan memperbaiki peradaban. Bukan intelektual mahacerdas yang terpenjara dalam kenikmatan gelimang gaji sekian-sekian, atau hasil penelitian ‘yang dipesan’ dan hanya teraplikasi oleh asing tanpa mengakomodir kepentingan umat..

Umat membutuhkan kita, sekarang!

00:57

Tidak ada komentar:

Posting Komentar