Kamis, 08 Januari 2009

Behind The Scene of Global Warming

[Januari 2007-- dah lama juga ya ditulisnya,,]

Kapitalisme, Ideologi yang sejak kelahirannya terus menerus memberikan bencana bagi umat manusia, tengah memulai satu permainannya lagi.

Setelah sekian banyak permainan dilakukan pada hampir seluruh aspek kehidupan, kali ini Kapitalisme mengambil isu lingkungan sebagai panggung untuk memainkan lakon terbarunya: Global Warming.

Global Warming
Global Warming atau Pemanasan Global merupakan peningkatan temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Salah satu yang dituding sebagai penyebabnya ialah peningkatan efek rumah kaca yang terjadi di bumi akibat aktivitas manusia terutama dalam bidang industri.

Beberapa ahli berpendapat, sejak revolusi industri, jumlah emisi gas rumah kaca (CO2, CH4, NOx, SOx, SF6, H2O, dan PFC) meningkat tajam dan mengikis lapisan ozon, sehingga terjadilah efek gas rumah kaca.

Efek gas rumah kaca inilah yang menyebabkan pemanasan global dan mengubah iklim dunia secara keseluruhan dengan berbagai dampaknya yang serius terhadap ekosistem dunia 1).

Dalam sekejap global warming menjadi headline news bagi dunia. Seluruh dunia bangkit untuk peduli dan bahu membahu mengatasi permasalahan ini.

Desember 1997, negara-negara yang tergabung dalam UNFCC berkumpul di Kyoto, Jepang. Para pemimpin negara ini sepakat menandatangani protokol Kyoto yang diadopsi dari Pertemuan Bumi di Rio de Janerio tahun 1992. Pernyataan pers PBB menyatakan protokol ini merupakan persetujuan negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5.2 % dari tahun 19902).

Tidak hanya itu, pada tanggal 3-14 Desember 2007 lalu baru saja dilaksanakan United Nations Climate Change Conference 2007 di Denpasar, Bali. Konferensi tersebut telah menghasilkan sejumlah keputusan termasuk Bali Roadmap yang merupakan sebuah kumpulan keputusan yang dibuat sebagai persiapan untuk konferensi PBB tentang perubahan iklim global yang akan diselenggarakan di Kopenhagen (Denmark) pada tahun 2009. S

elanjutnya, hasil dari konferensi di Kopenhagen tersebut akan diratifikasi oleh negara-negara di dunia untuk menggantikan Kyoto Protocol yang akan berakhir pada tahun 2012 3).


Ada Apa dengan Global Warming
?
Global Warming sebenarnya bukan berita yang baru. Isu serupa juga menjadi headline news pada tahun 1997-1998, bersamaan dengan badai El Nino yang melanda berbagai kawasan di dunia 10 tahun lalu.

Cukup mengejutkan memang, kalau tidak bisa dikatakan janggal, bahwa isu yang sempat teredam dan tak terlihat geliatnya selama rentang waktu 10 tahun itu kembali mencuat akhir-akhir ini. Tanpa diawali oleh suatu peristiwa yang ‘spektakuler’, isu pemanasan global seolah ‘bangkit dari kubur’ dan kembali menjadi permasalahan hangat dunia.
Pada faktanya, perdebatan mengenai ada-tidaknya Global Warming masih terus berlangsung di kalangan ilmuwan seluruh dunia.

Sebagian besar ahli berpendapat bahwa global warming bukanlah suatu fenomena ‘luar biasa’ yang diakibatkan aktivitas manusia, melainkan merupakan satu siklus alami yang terjadi pada iklim dunia. Peningkatan temperatur mungkin saja terjadi, namun itu merupakan bagian dari siklus penghangatan dan pendinginan (warming and cooling) alami yang berlangsung pada bumi 4).


Pendapat para ahli yang mengatakan bahwa global warming hanya merupakan satu siklus alami adalah pendapat yang jarang terdengar. Padahal, perbandingan antara pendapat yang mengatakan pemanasan global merupakan efek dari aktivitas industri manusia dengan pendapat yang menyatakan bahwa pemanasan global adalah siklus alami nyaris mencapai angka 1 banding 1. Artinya, validitas terjadinya global warming pun masih belum mencapai angka 100%.


Saat ini, masyarakat dunia hanya dijejali dengan opini dan fakta-fakta yang mendukung satu pendapat saja. Dunia tengah digiring pada satu opini umum bahwa global warming sedang terjadi sebagai akibat dari aktivitas manusia. Baik aktivitas industri yang menyebabkan meningkatnya emisi gas rumah kaca, maupun hilangnya hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia. Opini pengimbangnya, beserta data-data yang mendukung, yang menyatakan bahwa global warming hanyalah suatu peristiwa alam biasa tidaklah dibeberkan pada masyarakat bahkan cenderung ditutup-tutupi. Ada apa?!


Other Story of Global Warming

Melihat permasalahan global warming, bukan berarti membatasi analisis pada sisi lingkungan saja. Global warming ini justru terkait erat dengan masalah ekonopolitik dunia. Hal ini sedikitnya terlihat dari Bali Roadmap yang merupakan hasil dari United Nations Climate Change Conference 2007 yang berlangsung di Denpasar, Bali, 3-14 Desember 2007 lalu5).


Hal utama yang dituding sebagai penyebab global warming adalah proses industrialisasi dan deforestasi yang terjadi di dunia. Negara-negara maju dituding sebagai pelaku industrialisasi berlebihan yang menyebabkan peningkatan luar biasa besar terhadap emisi gas rumah kaca, terutama Amerika Utara dan Eropa yang menyumbang sekitar 22 milyar ton karbon per tahun6), sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Brazil dituduh sebagai pelaku deforestasi atau pengurangan hutan secara besar-besaran.

Deforestasi dalam bentuk kebakaran hutan yang amat luaslah yang menyebabkan Indonesia berada di urutan ketiga negara penyumbang emisi CO2 terbesar setelah Amerika dan China7).

Pasca berbagai konferensi dan kesepakatan untuk mengurangi global warming effect yang notabene dimotori oleh negara-negara maju, terjadi berbagai peristiwa yang terlihat jelas sebagai saling melempar tanggung jawab. Misal, walau 186 negara sudah sepakat untuk meratifikasi Protokol Kyoto, Amerika malah mangkir. Padahal Amerika punya reputasi penyumbang emisi terbanyak. Runyamnya lagi, Amerika justru yang paling santer berkoar soal global warming dan menyeru negara-negara berkembang supaya jangan mengeksploitasi hutan mereka dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil serta menggantinya dengan sumber energi alternatif, seperti bio fuel, bio diesel, dll.

Mekanisme ‘carbon credit’ pun dicanangkan sesuai dengan kebijakan CDM (Clean Development Mechanism) dalam Protokol Kyoto. ‘Carbon Credit’ adalah kompensasi dalam bentuk dana yang diberikan kepada negara-negara yang mengurangi emisi CO2nya lebih besar dibandingkan dengan yang tercantum pada perjanjian. Kelebihan pengurangan emisi ini diberikan kompensasi oleh negara-negara yang tidak dapat (atau tidak mau) mengurangi emisi CO2nya. Terjadi pembelian emisi CO2, seperti yang dialami Brazil yang mendapat minimal $150 milyar per tahun sebagai kompensasi pelestarian hutan Amazon8). Malah, dalam KTT APEC di Sydney, Australia, 7-9 September 2007, Presiden AS George W. Bush memberikan US$20 juta kepada Indonesia untuk membantu penghijauan hutan, sebagai suatu dukungan pada Indonesia untuk mengurangi emisi CO2nya9).

Pada kondisi ini terlihat jelas bahwa negara-negara berkembang dijadikan ‘objek penderita’ dalam mengatasi masalah global warming. Negara-negara maju, jelas-jelas tidak dapat mengurang emisi CO2 karena akan menghancurkan industri dan infrastruktur ekonomi dalam negeri mereka. Karena itu mereka lantas mencoba mencari kambing hitam dengan menjadikan negara-negara berkembang bersikap aktif dalam mengurangi emisi CO2 dan membayar sejumlah dana sebagai kompensasinya.


Behind The Scene of Global Warming

Berbagai fakta dan analisis diatas makin memperkuat dugaan bahwa memang Kapitalisme tengah menjadikan Global Warming sebagai panggung dalam lakon terbarunya. Isu Global Warming, terlepas dari kontroversi mengenai benar atau tidak, telah memberikan keuntungan sangat besar bagi negara-negara maju pengusung Kapitalis, terutama Amerika.


Pengarahan opini dunia pada pentingnya mengatasi global warming merupakan gerbang awal dalam memainkan lakon ini. Dunia diposisikan pada suatu kondisi dimana global warming harus diatasi, bagaimanapun caranya. Hasil dari sekian banyak konferensi yang dilakukan dalam membahas hal tersebut adalah dengan mengurangi emisi CO2, yang berarti meminimalisir sebisa mungkin penggunaan bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, gas, batu bara dll.


Seolah latah, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia dengan antusias mengikuti dan mencoba menerapkan kebijakan tersebut tanpa melihat kesiapan dalam negeri. Penggunaan bahan bakar fosil terutama minyak bumi sudah diminimalisir dan subsidinya bagi rakyat sudah dihentikan. Sebaliknya, penelitian dan pengembangan bagi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan mulai digalakkan. Bahkan sangat digalakkan. Blow up opini media mengenai bahaya global warming dan bahan bakar fosil sudah sedemikian hebatnya sehingga penggunaan energi alternatif ramah lingkungan seolah menjadi harga mati yang tak bisa dibantah.

Dampaknya tak tanggung-tanggung, salah satunya adalah konservasi ribuan hektar lahan pertanian menjadi lahan jarak dengan harapan dapat menjadi sumber pasokan bagi pengembangan sumber energi alternatif. Padahal ribuan petani menderita kerugian, karena waktu panen tanaman jarak yang lebih lama serta biaya pemeliharaannya yang mahal. Lahan pangan pun menurun drastis yang menjadikan Indonesia harus mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Ironis bukan?!


Dampak lain yang tidak kalah seriusnya adalah kematian industri dalam negeri. Sebagaimana diketahui bersama, sebagian besar industri di Indonesia menggunakan bahan bakar fosil dalam proses operasinya. Sumber energi alternatif masih belum dapat menggantikan peranan bahan bakar fosil dalam proses industri ini. Atau setidaknya, Indonesia belum siap. Minimalisir penggunaan bahan bakar fosil ini secara otomatis akan mengganggu perindustrian Indonesia sebelum akhirnya mati. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara-negara berkembang lainnya di seluruh dunia. Mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam rangka pencegahan global warming tanpa mempedulikan kesiapan dalam negeri mereka sendiri. Sementara negara-negara maju dapat dengan tenang melanjutkan proses industri dan keidupan mereka tanpa takut akan emisi CO2 yang mereka keluarkan karena adanya program CDM (Clean Development Mechanism), sehingga mereka dapat ‘mengupah’ negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi CO2 sebagai pengimbang atas emisi CO2 yang dikeluarkan negara-negara maju.

Satu hal penting yang perlu diingat adalah keberadaan global warming sebagai akibat dari ulah manusia masih diperdebatkan sampai detik ini. Berbagai upaya pengurangan emisi CO2 yang dilakukan dunia belum 100% diyakini efektivitasnya dalam mengatasi global warming.
Tidak hanya sampai disitu, tujuan terbesar dalam pengguliran isu global warming adalah menjadikan Amerika dan negara-negara Kapitalis lain sebagai pemain tunggal ekonomi dunia dan mencengkeramkan lebih erat hegemoni mereka atas dunia.

Suatu paradoks yang mengerikan akan terjadi. Bayangkan suatu keadaan dimana industri di negara-negara berkembang menjadi lumpuh (karena terikat dengan perjanjian global warming) padahal kebutuhan dalam negeri mereka begitu tinggi sehingga ketergantungan mereka atas impor menjadi semakin tinggi.

Sebaliknya negara-negara maju bebas menjalankan industrinya bahkan mungkin lebih hebat lagi karena telah membeli ‘carbon credit’ dari negara-negara berkembang. Sumber energi fosil yang terdapat di negara-negara berkembang menjadi ‘tak tersentuh’ dalam pengembangan dalam negerinya dan dapat dimanfaatkan dengan bebas oleh negara-negara maju untuk membiayai industri-industri mereka, lewat berbagai investasi, perjanjian dan sebagainya, bahkan mungkin dengan harga murah. Mekanisme utang-piutang akan marak kembali sehingga campur tangan negara kapitalis terhadap kebijakan dan undang-undang negara-negara dunia menjadi satu keniscayaan.
Cengkeraman Amerika dan sekutunya terhadap dunia menjadi makin erat, karena sentralistik ekonomi dunia dengan Amerika sebagai poros, bahkan mungkin satu-satunya poros. Tak pelak lagi, penderitaan akan melingkupi umat manusia.

Solusi Terbaik, Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Kapitalisme merupakan ideologi yang didasarkan pada hawa nafsu dan kerakusan manusia. Wajar saja jika keberadaannya saat ini terus menerus menimbulkan penderitaan tak berujung bagi dunia. Tidak hanya manusia, namun juga alam sekitar kita.

Fashluddin ‘anil hayyah atau pemisahan agama dan kehidupan (sekularisme) yang menjadi asas ideologi ini menjadikan manusia membuat aturan kehidupannya senidri sekehendak hatinya. Benar salahnya suatu aturan didasarkan pada keuntungan dan kenikmatan sebesar-besarnya yang dirasakan oleh sang pembuat aturan tersebut.

Tidak peduli apakah itu merugikan orang lain atau tidak. Hukum rimba berlaku dengan pasti dimana sang pemilik modal adalah pihak yang kuat dan karenanya selalu menjadi pemenang dalam hal apapun. Tidak heran jika negara-negara pengusungnya seperti Amerika selalu melakukan ekspansi terhadap negara lain teruatama negeri-negeri Islam yang kaya SDA dan kini tengah berstatus sebagai negera-negara berkembang,
Global warming hanyalah satu kasus yang menunjukkan betapa kapitalisme yang diusung AS berusaha menguasai dunia, terutama negeri-negeri Islam. Lihat saja negara-negara yang dibidik dalam kasus global warming, sebagian besarnya merupakan negeri-negeri Islam yang kaya akan sumber daya alam.

Global warming pun hanya digunakan sebagai senjata untuk merampok habis kekayaan negeri-negeri muslim sekaligus membuat kaum muslimin bertekuk lutut di hadapan Amerika, sang penguasa.
Satu-satunya solusi yang dapat menyelesaikan permasalah ini dengan tuntas adalah dengan kembali kepada hukum-hukum dari Sang Pencipta kita, Allah SWT.

Kembali pada Islam secara kaffah dalam suatu bingkai institusi Daulah Khilafah Islamiyyah. Keberadaan Khilafah Islam inilah yang akan menghimpun seluruh negeri muslim di seluruh dunia tanpa kecuali dalam satu kesatuan, memberikan perlindungan terhadap kaum muslim dari cengkeraman negara-negara Kapitalis, dengan menolak secara tegas berbagai upaya mereka untuk mengobok-obok negeri Islam dan merampok kekayaan alamnya, serta menjalankan aturan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam hal pengelolaan SDA tanpa melupakan aspek lingkungan.


Karena itu, sesungguhnya tidak ada pilihan lain bagi kaum muslimin selain berjuang untuk bersama-sama bersatu di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah, tidak hanya untuk menyelesaikan masalah global warming, namun juga untuk menyelesaikan seluruh permasalahan dunia akibat ulah Kapitalisme. Lebih jauh lagi, kewajiban menegakkan Daulah Khilafah Islamiyyah merupakan kewajiban paling mulia yang harus dilakukan oleh setiap muslim.


1. http://www.majarikanayakan.com/2007/10/indonesia_and_global_warming/ 12jan08

2. http://vebymega.blogspot.com/2007/08/utang-pemanasan-global-amerika.html 8jan08

3. http://www.majarikanayakan.com/2007/12/UNCCC2007-Bali-Roadmap/12jan08
4. http://www.spacescience.com/default.htm, 12jan08
5. http://www.majarikanayakan.com/, 12jan08
6. http://nofieiman.com/category/news/, 12jan08

7. Emil Salim; Koordinasi Informasi Pemanasan Global terhadap Perekonomian Indonesia

8. http://unfccc.int/meetings/cop_13/items/4049.php, 12jan08

9
. http://unisosdem.org/kliping_list.php?coid=1&caid=56, 12jan08

1 komentar:

  1. akhirnya ana menemukan artikel Global Waring yg memandang dari sisi politis -ideologis...

    BalasHapus