Tampilkan postingan dengan label my opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my opinion. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2009

Butir-Butir Letter of Intent (LoI) IMF (1997-2000) dan Respon Kebijakan Pemerintah di Bidang Pangan

Secara sederhana LoI atau Letter of Intent adalah sebuah perjanjian yang disepakati antara pemerintah RI dengan IMF karena adanya bantuan dana dari IMF terhadap Indonesia saat krisis ekonomi 1998.

Jangan dikira perjanjian tersebut bebas nilai apalagi bebas kepentingan. Pemberian utang dapat dianalogikan sebagai ‘harga obral’ negeri ini untuk dijual pada korporasi internasional.

Sebagai salah satu syarat kesepakatan pemberian utang, IMF memberikan ‘resep’ pada Indonesia untuk mengatur kebijakan domestiknya. Resep tersebut berupa LoI yang kemudian akan dibuat peraturannya oleh Pemerintah untuk diterapkan secara resmi di Indonesia.

Hasilnya, alih-alih menyembuhkan Indonesia dari krisis, resep berhaluan neoliberal ini malah melanggengkan Indonesia dalam keterpurukannya.
Inilah salah satu contohnya LoI di bidang pangan Indonesia.

LoI 11 Sepetember 1997
In order to stabilize and reduce market price paid by the general public
(Untuk menstabilkan harga dan mengurangi harga pasar yang dibayar oleh Pemerintah)


1. Bulog is increasing substially the quantity of rice released into the market at below market prices, and will maintain a higher level of releases until the main harvest.
(Bulog meningkatkan jumlah beras yang dijualnya ke pasar dengan harga di bawah harga pasar dan terus menjaga jumlah itu hingga masa panen berikutnya)

2. Also, for the first time in thirty years, we will allow privat traders to import rice.

(Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun kita mengizinkan pihak swasta untuk mengimpor beras)


Peraturan yang langsung menindaklanjuti butir-butir LoI tersbut adalah SK Memperindag No, 439 tentang Bea Masuk, 22 September 1998, yang mengatakan bahwa:


‘Impor beras dibebaskan, dengan bea masuk nol (0) persen’

Wow, negeri kita hebat banget ya? Bener2 taat ngelakuin perjanjian..


Walopun perjanjian itu membunuh rakyat dan menggadaikan negeri ini perlahan-lahan!
Dengan impor beras yang dibebaskan, petani kita mati! Kalah bersaing dengan korporasi pertanian global yang mendapat subsidi dan proteksi gila-gilaan dari negaranya.


Amerika contohnya, ia memberikan proteksi dan subsidi sangat besar terhadap sektor pertanian, termasuk para petaninya.

Berbeda jauh dengan petani kita yang terus - menerus dijadikan tumbal oleh penguasa. Tak terperhatikan, hanya dianggap komoditas yang baru bernilai saat menjelang pemilu,,

Haha lucu sekali..


Masha Allah,,

Sabtu, 10 Januari 2009

Talking ‘bout The Blue—Cholerist

Biru,,
Seringkali digunakan untuk merepresentasikan ketenangan, kebijaksanaan, bahkan ketentraman.. Namun, ada representasi lain untuk warna satu ini, yaitu sebagai lambang salah satu dari empat tipe kepribadian..

The Dominant

Cholerist

Berorientasi target – melihat seluruh gambaran – terorganisasi dengan baik – mencari pemecahan praktis – gerak cepat untuk bertindak – mendelegasikan pekerjaan – menekankan hasil – membuat target – merangsang kegiatan – berkembang karena saingan (ciri2 koleris, Florence Littaeur)

Kekuatan utama orang-orang koleris adalah pada dominasi dan kepemimpinannya yang sangat terasa pada komunitas dimana ia berada.

Beberapa waktu lalu, nyaris tidak ada masalah dengan pikiranku mengenai tipe kepribadian satu ini, karena salah satu kecenderungan kepribadianku pun koleris,, meski sanguinis lebih mendominasi..^^

Tapi, belakangan ini, beberapa hal membuatku mulai ‘memperhatikan’ keberadaan orang2 koleris di sekitarku..

Ya, mereka kuat!
(Tapi disertai dengan kesan ngotot gak jelas, maen banting, jarang mau dengerin orang lain, central of forrum—wanna be, judging not discussing, gak peka,,)

Ya, mereka tangguh!
(Tapi ‘ketangguhan’ mereka tidak melahirkan rasa segan, melainkan takut, yang suatu saat akan berubah menjadi opositif,, they press others, they have their own mind n perception, so they don’t pay much attention on discussion, just for making others agree with their thought n perception!)

Namun, aku tahu mereka hebat!

Maybe I’m judging but I don’t understand also,,
I have cholerist side on my own personality, but I don’t know the reason why they do so? Atau, apakah aku pun demikian? Astaghfirullah..

Apakah dominasi koleris harus selalu diidentikan dengan kesan memaksa, kuat—tapi membuat tak nyaman? Apakah untuk membuat orang lain sepakat dengan sang koleris, harus digunakan cara ‘menekan’ yang (minimal bagiku) tidak menghasilkan apa-apa kecuali rasa sebal yang teramat sangat atau bahkan rasa underestimate terhadap diri sendiri dari lawan bicara?
Mengapa tidak digunakan cara lain? Cara yang tidak akan mengurangi arogansi Sang Koleris, tidak menihilkan sedikit pun dominasinya..

‘Dialog dengan kata-kata yang tidak menyakitkan,, dengan nada yang tidak melecehkan,, dengan sorot mata yang tidak menggurui,,

Kata-kata tajam yang menginspirasi sekaligus memotivas sudah cukup untuk membuat lawan bicara memperhatikan sang pemimpin alami ini berkata-kata..’

Tidak perlu menekan kalau tidak dibutuhkan! Ini bukan debat, kawan!

Kupikir, cara itu akan jauh lebih efektif..

Ide-ide hebat sang koleris pun akan dapat dengan mudah diterima orang lain, sehingga, secara alami kepemimpinan sang koleris akan dengan cepat diikuti..

Bukankah itu lebih baik?

Based on my experiences, yang terasa saat berdialog dengan orang-orang dominan ini adalah lelah! Defensivitas yang langsung timbul karena menyadari ‘bahaya’ yang mengancam. Percakapan jadi terasa seperti ‘perang’, ada menang, ada kalah,, padahal tujuan awal dari sebuah pembicaraan—atau bahkan perdebatan—adalah sebuah ‘kebenaran’, bukan pembenaran ego pribadi!

Tapi,,
Mengapa sulit sekali bicara dengan mereka? Apakah karena aku koleris juga?

Jumat, 09 Januari 2009

Perempuan

Euforia peringatan kemerdekaan republik selalu terasa menjelang 17 agustus. Gegap gempita merayakan merdekanya negeri ini dari penjajahan kolonial klasik terlihat dimana-mana, mulai dari kota besar hingga pelosok desa. Kemerdekaan negeri ini dapat diartikan kemerdekaan peran dalam setiap aspek kehidupan bagi seluruh komponen masyarakat, termasuk perempuan.


Perempuan. Mitra lelaki yang dalam sejarahnya memiliki catatan panjang dalam hal pendiskreditan dan inferioritas peran pada berbagai peradaban. Dulu dan sekarang.


Kebiasaan masyarakat Arab pra-Islam yang senang memperjualbelikan perempuan, menyewakan istri untuk orang lain dan mengubur hidup-hidup bayi perempuan cukuplah menjadi contoh kelam pendiskreditan atas eksistensi perempuan. Indonesia pra kemerdekaan pun tak luput dari fenomena serupa. Bagaimana perempuan lagi-lagi dianggap sebagai kaum nomor dua setelah lelaki. R.A Kartini menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tidak dikenal, dan sebagainya.


Bagaimana dengan sekarang? Apakah abad hi-tech dengan segala modernisasinya ini telah berhasil menempatkan perempuan dalam posisi yang mulia dan memerdekakan peran sang wanita? Ternyata tidak. Ide feminis yang santer disuarakan untuk mengangkat peran perempuan pun tak mampu membebaskan belenggu eksploitatif ini. Alih-alih membebaskan, ide ‘kesamarataan peran’ antara laki-laki dan perempuan yang dinisbahkan secara berlebihan, justru menjerumuskan kaum perempuan pada bentuk eksploitatif yang berbeda. Meski tak kentara, kaum perempuan kembali menjadi objek garapan manusia-manusia tak bermoral. Mereka dijadikan objek perdagangan (trafficking), objek eksploitasi melalui berbagai macam kontes kecantikan dan model iklan. Kebebasan yang disuarakan bagi perempuan ternyata lebih banyak berkutat seputar keindahan fisik semata. Sehingga seringkali muncul anggapan picik bahwa ‘nilai’ seorang wanita terletak pada ‘seberapa indah’ tubuhnya. Korban pun berjatuhan. Kasus-kasus bulimia, anoreksia, kegagalan bedah plastik, diet ketat yang berujung pada kematian, dll dengan cepat menjamur di seluruh dunia. Ide ‘kesamarataan peran’ pun membuat banyak perempuan menikah berlomba-lomba mengejar karirnya di luar rumah. Karir yang setara dengan lelaki dianggap sebagai simbol ketercapaian emansipasi dan kemerdekaan peran perempuan. Pada faktanya banyak wanita karir yang begitu sibuk dengan urusan karirnya sehingga seringkali melalaikan pengurusan keluarga termasuk anak-anaknya.


Perempuan, merupakan makhluk mulia yang ditangannya lah peradaban berada. Ia adalah pengemban tugas mulia yang diberikan alam kepadanya. Ia adalah seorang ibu. Pendidik pertama dan utama bagi setiap manusia. Sekolah istimewa bagi setiap jiwa yang lahir ke dunia. Peran agung yang tidak dimiliki oleh laki-laki dan hanya terlekat pada perempuan. Kesadaran mengenai mulianya peran perempuan tersebut dimiliki oleh R.A Kartini, seperti terlihat dalam isi suratnya kepada Profesor Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902:


Kami disini memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi kami yakin akan pengariuhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan; agar perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya: menjadi Ibu, pendidik manusia pertama-tama’


Itulah peran utama dari seorang perempuan. Sebagai pendidik dan pencetak generasi hebat. Sebagai seorang Ibu. Peran maha penting yang sayangnya saat ini banyak dianggap sebagai suatu bentuk pengekangan terhadap kebebasan perempuan. Seperti itulah seharusnya perempuan bersikap. Bukan semata-mata terbutakan oleh emansipasi sehingga berlomba-lomba mengejar karir dan melupakan peran mulia ini.


Tidak ada yang salah dengan suksesnya karir seorang perempuan. Tidak ada yang salah dengan tingginya tingkat pendidikan kaum perempuan. Tidak ada yang salah dengan aktivitas-aktivitas perempuan di luar rumah. Yang salah adalah ketika semua itu membuat perempuan melalaikan peran utamanya sebagai Ibu dan pendidik anak-anaknya.


Perempuan adalah pelukis peradaban. Arsitek kehidupan yang di tangannya dapat lahir generasi-generasi cemerlang. Kemerdekaan peran perempuan jelas harus diawali dengan mendudukkan peran perempuan sebagaimana mestinya. Peran perempuan sebagai Ibu pencetak generasi-generasi cemerlang pembangun Bangsa. []

Kamis, 08 Januari 2009

Behind The Scene of Global Warming

[Januari 2007-- dah lama juga ya ditulisnya,,]

Kapitalisme, Ideologi yang sejak kelahirannya terus menerus memberikan bencana bagi umat manusia, tengah memulai satu permainannya lagi.

Setelah sekian banyak permainan dilakukan pada hampir seluruh aspek kehidupan, kali ini Kapitalisme mengambil isu lingkungan sebagai panggung untuk memainkan lakon terbarunya: Global Warming.

Global Warming
Global Warming atau Pemanasan Global merupakan peningkatan temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Salah satu yang dituding sebagai penyebabnya ialah peningkatan efek rumah kaca yang terjadi di bumi akibat aktivitas manusia terutama dalam bidang industri.

Beberapa ahli berpendapat, sejak revolusi industri, jumlah emisi gas rumah kaca (CO2, CH4, NOx, SOx, SF6, H2O, dan PFC) meningkat tajam dan mengikis lapisan ozon, sehingga terjadilah efek gas rumah kaca.

Efek gas rumah kaca inilah yang menyebabkan pemanasan global dan mengubah iklim dunia secara keseluruhan dengan berbagai dampaknya yang serius terhadap ekosistem dunia 1).

Dalam sekejap global warming menjadi headline news bagi dunia. Seluruh dunia bangkit untuk peduli dan bahu membahu mengatasi permasalahan ini.

Desember 1997, negara-negara yang tergabung dalam UNFCC berkumpul di Kyoto, Jepang. Para pemimpin negara ini sepakat menandatangani protokol Kyoto yang diadopsi dari Pertemuan Bumi di Rio de Janerio tahun 1992. Pernyataan pers PBB menyatakan protokol ini merupakan persetujuan negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5.2 % dari tahun 19902).

Tidak hanya itu, pada tanggal 3-14 Desember 2007 lalu baru saja dilaksanakan United Nations Climate Change Conference 2007 di Denpasar, Bali. Konferensi tersebut telah menghasilkan sejumlah keputusan termasuk Bali Roadmap yang merupakan sebuah kumpulan keputusan yang dibuat sebagai persiapan untuk konferensi PBB tentang perubahan iklim global yang akan diselenggarakan di Kopenhagen (Denmark) pada tahun 2009. S

elanjutnya, hasil dari konferensi di Kopenhagen tersebut akan diratifikasi oleh negara-negara di dunia untuk menggantikan Kyoto Protocol yang akan berakhir pada tahun 2012 3).


Ada Apa dengan Global Warming
?
Global Warming sebenarnya bukan berita yang baru. Isu serupa juga menjadi headline news pada tahun 1997-1998, bersamaan dengan badai El Nino yang melanda berbagai kawasan di dunia 10 tahun lalu.

Cukup mengejutkan memang, kalau tidak bisa dikatakan janggal, bahwa isu yang sempat teredam dan tak terlihat geliatnya selama rentang waktu 10 tahun itu kembali mencuat akhir-akhir ini. Tanpa diawali oleh suatu peristiwa yang ‘spektakuler’, isu pemanasan global seolah ‘bangkit dari kubur’ dan kembali menjadi permasalahan hangat dunia.
Pada faktanya, perdebatan mengenai ada-tidaknya Global Warming masih terus berlangsung di kalangan ilmuwan seluruh dunia.

Sebagian besar ahli berpendapat bahwa global warming bukanlah suatu fenomena ‘luar biasa’ yang diakibatkan aktivitas manusia, melainkan merupakan satu siklus alami yang terjadi pada iklim dunia. Peningkatan temperatur mungkin saja terjadi, namun itu merupakan bagian dari siklus penghangatan dan pendinginan (warming and cooling) alami yang berlangsung pada bumi 4).


Pendapat para ahli yang mengatakan bahwa global warming hanya merupakan satu siklus alami adalah pendapat yang jarang terdengar. Padahal, perbandingan antara pendapat yang mengatakan pemanasan global merupakan efek dari aktivitas industri manusia dengan pendapat yang menyatakan bahwa pemanasan global adalah siklus alami nyaris mencapai angka 1 banding 1. Artinya, validitas terjadinya global warming pun masih belum mencapai angka 100%.


Saat ini, masyarakat dunia hanya dijejali dengan opini dan fakta-fakta yang mendukung satu pendapat saja. Dunia tengah digiring pada satu opini umum bahwa global warming sedang terjadi sebagai akibat dari aktivitas manusia. Baik aktivitas industri yang menyebabkan meningkatnya emisi gas rumah kaca, maupun hilangnya hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia. Opini pengimbangnya, beserta data-data yang mendukung, yang menyatakan bahwa global warming hanyalah suatu peristiwa alam biasa tidaklah dibeberkan pada masyarakat bahkan cenderung ditutup-tutupi. Ada apa?!


Other Story of Global Warming

Melihat permasalahan global warming, bukan berarti membatasi analisis pada sisi lingkungan saja. Global warming ini justru terkait erat dengan masalah ekonopolitik dunia. Hal ini sedikitnya terlihat dari Bali Roadmap yang merupakan hasil dari United Nations Climate Change Conference 2007 yang berlangsung di Denpasar, Bali, 3-14 Desember 2007 lalu5).


Hal utama yang dituding sebagai penyebab global warming adalah proses industrialisasi dan deforestasi yang terjadi di dunia. Negara-negara maju dituding sebagai pelaku industrialisasi berlebihan yang menyebabkan peningkatan luar biasa besar terhadap emisi gas rumah kaca, terutama Amerika Utara dan Eropa yang menyumbang sekitar 22 milyar ton karbon per tahun6), sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Brazil dituduh sebagai pelaku deforestasi atau pengurangan hutan secara besar-besaran.

Deforestasi dalam bentuk kebakaran hutan yang amat luaslah yang menyebabkan Indonesia berada di urutan ketiga negara penyumbang emisi CO2 terbesar setelah Amerika dan China7).

Pasca berbagai konferensi dan kesepakatan untuk mengurangi global warming effect yang notabene dimotori oleh negara-negara maju, terjadi berbagai peristiwa yang terlihat jelas sebagai saling melempar tanggung jawab. Misal, walau 186 negara sudah sepakat untuk meratifikasi Protokol Kyoto, Amerika malah mangkir. Padahal Amerika punya reputasi penyumbang emisi terbanyak. Runyamnya lagi, Amerika justru yang paling santer berkoar soal global warming dan menyeru negara-negara berkembang supaya jangan mengeksploitasi hutan mereka dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil serta menggantinya dengan sumber energi alternatif, seperti bio fuel, bio diesel, dll.

Mekanisme ‘carbon credit’ pun dicanangkan sesuai dengan kebijakan CDM (Clean Development Mechanism) dalam Protokol Kyoto. ‘Carbon Credit’ adalah kompensasi dalam bentuk dana yang diberikan kepada negara-negara yang mengurangi emisi CO2nya lebih besar dibandingkan dengan yang tercantum pada perjanjian. Kelebihan pengurangan emisi ini diberikan kompensasi oleh negara-negara yang tidak dapat (atau tidak mau) mengurangi emisi CO2nya. Terjadi pembelian emisi CO2, seperti yang dialami Brazil yang mendapat minimal $150 milyar per tahun sebagai kompensasi pelestarian hutan Amazon8). Malah, dalam KTT APEC di Sydney, Australia, 7-9 September 2007, Presiden AS George W. Bush memberikan US$20 juta kepada Indonesia untuk membantu penghijauan hutan, sebagai suatu dukungan pada Indonesia untuk mengurangi emisi CO2nya9).

Pada kondisi ini terlihat jelas bahwa negara-negara berkembang dijadikan ‘objek penderita’ dalam mengatasi masalah global warming. Negara-negara maju, jelas-jelas tidak dapat mengurang emisi CO2 karena akan menghancurkan industri dan infrastruktur ekonomi dalam negeri mereka. Karena itu mereka lantas mencoba mencari kambing hitam dengan menjadikan negara-negara berkembang bersikap aktif dalam mengurangi emisi CO2 dan membayar sejumlah dana sebagai kompensasinya.


Behind The Scene of Global Warming

Berbagai fakta dan analisis diatas makin memperkuat dugaan bahwa memang Kapitalisme tengah menjadikan Global Warming sebagai panggung dalam lakon terbarunya. Isu Global Warming, terlepas dari kontroversi mengenai benar atau tidak, telah memberikan keuntungan sangat besar bagi negara-negara maju pengusung Kapitalis, terutama Amerika.


Pengarahan opini dunia pada pentingnya mengatasi global warming merupakan gerbang awal dalam memainkan lakon ini. Dunia diposisikan pada suatu kondisi dimana global warming harus diatasi, bagaimanapun caranya. Hasil dari sekian banyak konferensi yang dilakukan dalam membahas hal tersebut adalah dengan mengurangi emisi CO2, yang berarti meminimalisir sebisa mungkin penggunaan bahan bakar fosil, seperti minyak bumi, gas, batu bara dll.


Seolah latah, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia dengan antusias mengikuti dan mencoba menerapkan kebijakan tersebut tanpa melihat kesiapan dalam negeri. Penggunaan bahan bakar fosil terutama minyak bumi sudah diminimalisir dan subsidinya bagi rakyat sudah dihentikan. Sebaliknya, penelitian dan pengembangan bagi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan mulai digalakkan. Bahkan sangat digalakkan. Blow up opini media mengenai bahaya global warming dan bahan bakar fosil sudah sedemikian hebatnya sehingga penggunaan energi alternatif ramah lingkungan seolah menjadi harga mati yang tak bisa dibantah.

Dampaknya tak tanggung-tanggung, salah satunya adalah konservasi ribuan hektar lahan pertanian menjadi lahan jarak dengan harapan dapat menjadi sumber pasokan bagi pengembangan sumber energi alternatif. Padahal ribuan petani menderita kerugian, karena waktu panen tanaman jarak yang lebih lama serta biaya pemeliharaannya yang mahal. Lahan pangan pun menurun drastis yang menjadikan Indonesia harus mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Ironis bukan?!


Dampak lain yang tidak kalah seriusnya adalah kematian industri dalam negeri. Sebagaimana diketahui bersama, sebagian besar industri di Indonesia menggunakan bahan bakar fosil dalam proses operasinya. Sumber energi alternatif masih belum dapat menggantikan peranan bahan bakar fosil dalam proses industri ini. Atau setidaknya, Indonesia belum siap. Minimalisir penggunaan bahan bakar fosil ini secara otomatis akan mengganggu perindustrian Indonesia sebelum akhirnya mati. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara-negara berkembang lainnya di seluruh dunia. Mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam rangka pencegahan global warming tanpa mempedulikan kesiapan dalam negeri mereka sendiri. Sementara negara-negara maju dapat dengan tenang melanjutkan proses industri dan keidupan mereka tanpa takut akan emisi CO2 yang mereka keluarkan karena adanya program CDM (Clean Development Mechanism), sehingga mereka dapat ‘mengupah’ negara-negara berkembang untuk mengurangi emisi CO2 sebagai pengimbang atas emisi CO2 yang dikeluarkan negara-negara maju.

Satu hal penting yang perlu diingat adalah keberadaan global warming sebagai akibat dari ulah manusia masih diperdebatkan sampai detik ini. Berbagai upaya pengurangan emisi CO2 yang dilakukan dunia belum 100% diyakini efektivitasnya dalam mengatasi global warming.
Tidak hanya sampai disitu, tujuan terbesar dalam pengguliran isu global warming adalah menjadikan Amerika dan negara-negara Kapitalis lain sebagai pemain tunggal ekonomi dunia dan mencengkeramkan lebih erat hegemoni mereka atas dunia.

Suatu paradoks yang mengerikan akan terjadi. Bayangkan suatu keadaan dimana industri di negara-negara berkembang menjadi lumpuh (karena terikat dengan perjanjian global warming) padahal kebutuhan dalam negeri mereka begitu tinggi sehingga ketergantungan mereka atas impor menjadi semakin tinggi.

Sebaliknya negara-negara maju bebas menjalankan industrinya bahkan mungkin lebih hebat lagi karena telah membeli ‘carbon credit’ dari negara-negara berkembang. Sumber energi fosil yang terdapat di negara-negara berkembang menjadi ‘tak tersentuh’ dalam pengembangan dalam negerinya dan dapat dimanfaatkan dengan bebas oleh negara-negara maju untuk membiayai industri-industri mereka, lewat berbagai investasi, perjanjian dan sebagainya, bahkan mungkin dengan harga murah. Mekanisme utang-piutang akan marak kembali sehingga campur tangan negara kapitalis terhadap kebijakan dan undang-undang negara-negara dunia menjadi satu keniscayaan.
Cengkeraman Amerika dan sekutunya terhadap dunia menjadi makin erat, karena sentralistik ekonomi dunia dengan Amerika sebagai poros, bahkan mungkin satu-satunya poros. Tak pelak lagi, penderitaan akan melingkupi umat manusia.

Solusi Terbaik, Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Kapitalisme merupakan ideologi yang didasarkan pada hawa nafsu dan kerakusan manusia. Wajar saja jika keberadaannya saat ini terus menerus menimbulkan penderitaan tak berujung bagi dunia. Tidak hanya manusia, namun juga alam sekitar kita.

Fashluddin ‘anil hayyah atau pemisahan agama dan kehidupan (sekularisme) yang menjadi asas ideologi ini menjadikan manusia membuat aturan kehidupannya senidri sekehendak hatinya. Benar salahnya suatu aturan didasarkan pada keuntungan dan kenikmatan sebesar-besarnya yang dirasakan oleh sang pembuat aturan tersebut.

Tidak peduli apakah itu merugikan orang lain atau tidak. Hukum rimba berlaku dengan pasti dimana sang pemilik modal adalah pihak yang kuat dan karenanya selalu menjadi pemenang dalam hal apapun. Tidak heran jika negara-negara pengusungnya seperti Amerika selalu melakukan ekspansi terhadap negara lain teruatama negeri-negeri Islam yang kaya SDA dan kini tengah berstatus sebagai negera-negara berkembang,
Global warming hanyalah satu kasus yang menunjukkan betapa kapitalisme yang diusung AS berusaha menguasai dunia, terutama negeri-negeri Islam. Lihat saja negara-negara yang dibidik dalam kasus global warming, sebagian besarnya merupakan negeri-negeri Islam yang kaya akan sumber daya alam.

Global warming pun hanya digunakan sebagai senjata untuk merampok habis kekayaan negeri-negeri muslim sekaligus membuat kaum muslimin bertekuk lutut di hadapan Amerika, sang penguasa.
Satu-satunya solusi yang dapat menyelesaikan permasalah ini dengan tuntas adalah dengan kembali kepada hukum-hukum dari Sang Pencipta kita, Allah SWT.

Kembali pada Islam secara kaffah dalam suatu bingkai institusi Daulah Khilafah Islamiyyah. Keberadaan Khilafah Islam inilah yang akan menghimpun seluruh negeri muslim di seluruh dunia tanpa kecuali dalam satu kesatuan, memberikan perlindungan terhadap kaum muslim dari cengkeraman negara-negara Kapitalis, dengan menolak secara tegas berbagai upaya mereka untuk mengobok-obok negeri Islam dan merampok kekayaan alamnya, serta menjalankan aturan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam hal pengelolaan SDA tanpa melupakan aspek lingkungan.


Karena itu, sesungguhnya tidak ada pilihan lain bagi kaum muslimin selain berjuang untuk bersama-sama bersatu di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah, tidak hanya untuk menyelesaikan masalah global warming, namun juga untuk menyelesaikan seluruh permasalahan dunia akibat ulah Kapitalisme. Lebih jauh lagi, kewajiban menegakkan Daulah Khilafah Islamiyyah merupakan kewajiban paling mulia yang harus dilakukan oleh setiap muslim.


1. http://www.majarikanayakan.com/2007/10/indonesia_and_global_warming/ 12jan08

2. http://vebymega.blogspot.com/2007/08/utang-pemanasan-global-amerika.html 8jan08

3. http://www.majarikanayakan.com/2007/12/UNCCC2007-Bali-Roadmap/12jan08
4. http://www.spacescience.com/default.htm, 12jan08
5. http://www.majarikanayakan.com/, 12jan08
6. http://nofieiman.com/category/news/, 12jan08

7. Emil Salim; Koordinasi Informasi Pemanasan Global terhadap Perekonomian Indonesia

8. http://unfccc.int/meetings/cop_13/items/4049.php, 12jan08

9
. http://unisosdem.org/kliping_list.php?coid=1&caid=56, 12jan08

100 tahun Kebangkitan Nasional: ‘Apa yang sebetulnya diperingati? benarkah Bangsa ini telah bangkit?’

[Juni 2008--ini juga baru di posting sekarang]

20 Mei 1908 Sejarah mencatat berdirinya Boedi Oetomo yang dianggap sebagai momentum lahirnya pergerakan kepemudaan Indonesia menuju kemerdekaan dan kebangkitannya untuk terlepas dari belenggu penjajahan. Begitu sakralnya tanggal tersebut sehingga Pemerintah menetapkannya sebagai hari kebangkitan nasional.

20 Mei 2008

Seabad kemudian..


Sejarah kembali mencatat bangsa Indonesia yang beberapa saat lagi akan memperingati 100 tahun hari kebangkitannya. Peringatan 100 tahun kebangkitan yang dipenuhi oleh banyak‘fenomena aneh’ untuk ukuran suatu Bangsa yang ‘katanya’ telah bangkit.

Paradoks yang miris terjadi.
Peringatan 100 tahun kebangkitan dilakukan di tengah kebingungan masyarakat akan naiknya harga pangan.

Peringatan 100 tahun kebangkitan dirayakan di tengah penderitaan masyarakat karena membengkaknya harga BBM.

Peringatan 100 tahun kebangkitan dirayakan ditengah merajalelanya kasus korupsi dan keruwetan birokrasi negeri ini.


Pada akhirnya peringatan 100 tahun kebangkitan nasional tak urung menyisakan satu pertanyaan yang menyedihkan,

‘Apa yang sebetulnya diperingati? Benarkah Bangsa ini telah bangkit?’.


Kebangkitan


‘Bangkit!’. Sebuah kata yang terdengar akrab bagi kita, mahasiswa. Satu kata yang menimbulkan semangat membara untuk bergerak, namun tak jarang terlupa maknanya. Memandang sebuah ‘kebangkitan’ tentunya tidak dapat hanya dilihat dari satu aspek semata. Tidak pula dapat dilihat dari permukaannya saja.

Kebangkitan lahir karena adanya suatu cara pandang yang benar dan mendalam mengenai kehidupan, mengenai manusia dan mengenai alam semesta. Suatu cara pandang yang akhirnya mendasari setiap aktivitas kita, suatu cara pandang yang menjadi ‘grand design’ bagi hidup kita, dan melahirkan aturan-aturan yang seseuai dengan cara pandang tersebut. Itulah yang dinamakan dengan ideologi.


Bila kita bicara dalam konteks kebangkitan suatu Bangsa, jelas parameter pertama suatu Bangsa dikatakan bangkit adalah ketika Bangsa tersebut memiliki satu ideologi yang jelas dan benar yang diterapkan dalam arah kebijakan dan Undang-Undangnya.
Bangsa tersebut juga harus independen dan bebas dalam mengatur urusan dalam negeri dan urusan luar negerinya tanpa adanya intervensi dari negara-negara lain. Ia harus memiliki mekanisme proteksi untuk bangsanya dari berbagai macam kepentingan asing yang berusaha masuk ke dalam negerinya.

Indonesia Negeriku..

Jika dibandingkan dengan standar diatas, ternyata negeri ini belumlah dapat dikatakan bangkit. Hal yang paling jelas terlihat adalah ketika tidak adanya independensi Pemerintah dan banyaknya kepentingan asing yang bercokol di Indonesia, dan mempengaruhi perjalanan negeri ini sejak pra kemerdekaan hingga sekarang. Dengan difasilitasi pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, terutama setelah diberlakukannya Agrarische Wet pada tanggal 9 April 1870, perusahaan-perusahaan transnasional Amerika seperti Caltex (California Texas Oil Corporation), pada tahun 1920-an telah meneguk laba di tengah kemelaratan rakyat Indonesia di bawah penindasan kolonialisme Belanda.

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, untuk menghindarkan wilayah-wilayah eksplorasi perusahaan-perusahaan transnasional Amerika terkena taktik bumi hangus dari kekuatan-kekuatan pemuda revolusioner bersenjata, Amerika memfasilitasi perundingan Indonesia-Belanda. Lewat Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda tahun 1949, wakil Amerika Serikat, Merle Cohran, yang bertindak sebagai moderator, memihak Belanda dan menuntut dua hal dari Indonesia. Cohran memaksa agar Republik menanggung hutang Hindia Belanda sebesar 1,13 miliar dollar Amerika. Sekitar 70 persen dari jumlah itu adalah hutang pemerintah kolonial, yang menurut pihak Indonesia 42 persennya merupakan biaya operasi militer dalam menghadapi Republik.

Mengingat mereka telah setuju semua investasi Belanda (dan pihak asing lainnya) di Indonesia akan dilindungi, persyaratan tersebut dilihat oleh semua pihak di Indonesia bahwa mereka akan mendapat bantuan yang cukup besar dari Amerika Serikat untuk melunasi beban hutang tersebut terbukti kosong belaka ketika ternyata yang diberikan hanya 100 juta dolar Amerika dalam bentuk kredit ekspor-impor yang harus dibayar kembali. Namun, dalam pengertian politik, konsensi paling penting yang dipaksakan Cohran adalah setengah bagian New Guinea (Irian Barat) yang secara geografis merupakan bagian Hindia-Belanda yang tidak diserahkan kepada Republik karena akan dibicarakan kemudian oleh Indonesia dan Belanda dalam waktu satu tahun.

Dan ketika presiden Soekarno mulai berteriak “go to hell with your America aid”, Amerika melakukan subversif sebagai politik luar negeri dengan cara mendukung pemberontakan PRRI-PERMESTA, menyusupkan agen senior CIA Guy Pauker ke Seskoad (Sekolah Komando Angkatan Darat), menyiapkan para intelektual “mafia barkeley”, dan terlibat dalam huru-hara politik tahun 1965-1966. (http://www.walhi.or.id/kampanye/psda/konflikmil/28 April 2008)
Kudeta berdarah tahun 1965-1966 di Indonesia tidak terlepas dari keterlibatan AS untuk mendapatkan kontrol mutlak atas kekayaan alam dan sumber daya Indonesia.

Pentingnya Indonesia bagi imperialisme AS ditegaskan oleh presiden AS, Eisenhower di tahun 1953, waktu ia mengatakan kepada konferensi gubernur negara-negara bagian bahwa pembiayaan oleh AS untuk perang kolonial pemerintah Prancis di Vietnam adalah sangat imperatif dan merupakan “jalan termurah” untuk tetap mengontrol Indonesia. Eisenhower menerangkan:

”Sekarang marilah kita anggap kita kehilangan Indocina. Bila Indocina hilang, beberapa hal akan langsung terjadi. Tanjung Malaka, sebidang tanah terakhir yang bertahan di sana, akan menjadi sulit untuk dipertahankan. Timah dan tungsten yang sangat kita hargai dari daerah itu akan berhenti datang, dan seluruh India akan terkepung.


“Birma tidak akan berada di posisi yang dapat dipertahankan. Semua posisi di sekitar sana akan menjadi sangat tak menyenangkan buat Amerika Serikat, karena pada akhirnya jika kita kehilangan semua itu, bagaimanakah dunia bebas akan mempertahankan kerajaan Indonesia yang kaya?

“Jadi, entah dimana, ini harus diberhentikan dan harus diberhentikan sekarang, dan inilah yang kita usahakan.

“Jadi, bila AS memutuskan untuk menyumbang 400 juta dolar untuk membantu perang di Indocina, kita bukannya menyuarakan program bantuan gratis. Kita memilih jalan termurah untuk mencegah terjadinya sesuatu yang akan berarti sangat buruk buat Amerika Serikat, keamanan, kekuatan dan kemampuan kita untuk mendapatkan barang-barang tertentu yang kita butuhkan dari kekayaan-kekayaan wilayah Indonesia dan Asia Tenggara.”

Indonesia telah diperkirakan sebagai negara terkaya nomor lima di dunia di bidang sumber-sumber alam. Selain sebagai produser minyak yang nomor lima terbesar, Indonesia mempunyai cadangan-cadangan timah, bauksit, batubara, emas, perak, berlian, mangan, fosfat, nikel, tembaga, karet, kopi, minyak kelapa sawit, tembakau, gula, kelapa, rempah-rempah, kayu dan kina yang sangat besar. Setelah kudeta 1965, Suharto naik menggantikan Soekarno dan rezim diktatoriat dimulai.

Pentingnya rezim ini bagi kepentingan imperialisme AS telah tergarisbawahi dalam laporan Departemen Luar Negeri AS ke Konggres di tahun 1975, yang menyebut Indonesia sebagai “lokasi yang paling berwenang secara strategis di dunia”:

a. Mempunyai populasi yang terbesar di seluruh Asia Tenggara
b. Merupakan penyuplai utama bahan-bahan mentah di daerah itu
c. Kemakmuran ekonomi Jepang yang tersu berkembang, sangatlah berkembang pada minyak bumi dan bahan-bahan mentah lain yang dipasok Indonesia

d. Investasi Amerika yang sudah ada di Indonesia sangatlah kokoh dan hubungan dagang kita sedang berkembang cepat.

e. Indonesia mungkin secara meningkat akan menjadi penyedia yang penting untuk keperluan energi AS. f. Indonesia adalah anggota OPEC, tetapi itu mengambil sikap yang moderat dalam langkah-langkhanya, dan tidak ikut serta dalam embargo minyak bumi.
g. Kepulauan Indonesia terletak pada jalur-jalur laut yang strategis dan pemerintah Indonesia memainkan peranan yang vital dalam perundingan-perundingan hukum kelautan, yang sangatlah penting untuk eamanan dan kepentingan komersil kita.


Setelah rezim militer Orde Baru berdiri, perusahaan transnasional Amerika, Freeport yang pertama kali mendapatkan konsensi untuk mengeksploitasi sumber-sumber agrarian di Indonesia, mengarahkan sistem ekonomi yang developmentalism dan membiarkan pelanggaran HAM berat yang dilakukan militer Indonesia kepada rakyat Indonesia.
Begitu pula dengan saat ini, banyaknya undang-undang yang berbau privatisasi sudah merupakan indikasi adanya kepentingan asing yang bersembunyi. Terlihat bukan, betapa dominan pengaruh kepentingan asing terhadap negeri ini. J

ika telah demikian, benarkah negeri ini telah bangkit?!


Kau, Aku, Mahasiswa..


Kawanku mahasiswa, tidak dapat dipungkiri, posisi kita sebagai manusia yang diamanahi kecerdasan dan intelektualitas tinggi ditambah dengan status mahasiswa di Institut ternama yang ‘didengar’ di negeri ini memiliki kekuatan tersendiri.
Jika ada satu elemen masyarakat yang paling berpotensi untuk melahirkan suatu kebangkitan yang hakiki, elemen itu adalah kita, mahasiswa.

Masyarakat membutuhkan kita, kaum intelektual yang akan menyelamatkan dan memperbaiki peradaban. Kaum intelektual yang akan memperjuangkan kebangkitan hakiki bagi negeri ini.
Kebangkitan yang mampu menerangi bangsa ini dari kegelapan.

Kebangkitan yang berlandaskan pada sebuah ideologi yang benar, sebuah ideologi yang dipahami rasio dan sesuai dengan fitrah hingga akhirnya menentramkan jiwa manusia. Sebuah ideologi yang berasal dari Zat yang Maha Mengetahui yang kasat mata dan yang ghaib. Sebuah ideologi yang pernah memimpin peradaban dunia selama 1300 tahun lamanya, yang mengangkat derajat manusia tanpa melihat asal dan agama.


Ideologi Islam namanya.


Kawanku mahasiswa, rakyat membutuhkan kita, sekarang!

Negeri Ini Butuh Sistem Baru!

"Kepulauan Indonesia terletak pada jalur-jalur laut yang strategis dan pemerintah Indonesia memainkan peranan yang vital dalam perundingan-perundingan hukum kelautan, yang sangatlah penting untuk keamanan dan kepentingan komersiil kita."

(laporan Departemen Luar Negeri AS ke Kongres di tahun 1975)


10 tahun sudah reformasi digagas, namun krisis multidimensional masih saja enggan meninggalkan negeri ini. Alih-alih membaik, keadaan bangsa ini secara keseluruhan nyaris tidak mengalami perbaikan signifikan dari segala aspek. Demokratisasi yang katanya mengalami perbaikan pasca reformasi (hingga AS memberikan penghargaan pada Indonesia karena progresitas demokratisasinya), ternyata hanya membawa bangsa ini pada perangkap krisis lain yang tak kalah menyengsarakan dibanding dengan diktaroriat rezim Soeharto. Keran-keran demokrasi dan kebebasan yang dibuka begitu deras tanpa batas dengan hancurnya tirani orde baru, telah menghasilkan problematika baru bagi bangsa ini. Indonesia terbuka, bebas dan liberal. Lepas dari kungkungan selama 32 tahun ternyata membuat euphoria kebebasan menjadi dewa kebijakan negara. Reformasi kehilangan esensinya untuk memperbaiki Indonesia, kebanyakan aktivisnya pun banyak terjebak dalam kenyamanan perpolitikan yang mematikan idealisme mereka 10 tahun lalu.

Neoliberalisme lantas menjadi pilihan kiblat Pemerintahan setelahnya, yang tentunya pengaturan seluruh aspek-aspek kehidupan negara, seperti perekonomian, pendidikan, kesehatan, pangan dan pertanian, sosial kemasyarakatan dan sebagainya berkiblat pada ideology ini. Neoliberalisme, sebagai produk dari Kapitalisme yang menggejala di seluruh dunia merupakan wajah baru (neo) dari liberalisme, suatu paham yang pernah popular pada abad 19 hingga awal abad 20. Paham yang digagas pertama kali oleh Adam Smith (1776), yang dikenal sebagai Bapak Ekonomi Klasik ini menawarkan kebebasan (liberal) dengan meminimalisasi peran pemerintah, tidak terbatas hanya dalam sektor ekonomi, namun juga dalam aspek lainnya. Liberalisme percaya bahwa penentuan harga yang sehat dalam suatu proses ekonomi hanya dapat diperoleh melalui suatu mekanisme pasar yang bebas dari intervensi manapun, akan ada ‘invisible hand’ yang secara alami (atau ajaib?) mengatur keseimbangan pasar. Neoliberalisme menawarkan wajah baru dari liberalisme Adam Smith, namun tentu esensi ideologinya tetap sama. Kebebasan. Paham yang digagas kembali oleh PM Inggris, Margareth Tatcher dan Presiden AS, Ronald Reagan pada tahun 1973 mulai popular pasca teori ekonomi Keynesian tidak sanggup menjawab permasalahan-permasalahan ekonomi dunia.

Sebagai Negara yang berhaluan Kapitalis (sejak rezim Orde Baru), apapun jenisnya, sistem neoliberal lantas menjadi pilihan negara kita pasca reformasi. Lantas, apakah keadaan Indonesia lebih baik dibanding sebelumnya dengan digunakannya sistem ini? Tidak. Keterbukaan Indonesia pada dunia internasional akibat doktrin kebebasan dan keengganan intervensi pemerintah dalam sistem perekonomian akibat paham neoliberal menghasilkan suatu kolaborasi yang makin menenggelamkan bangsa ini.

Dalam bidang ekonomi, semangat neoliberalisme, yakni privatisasi, deregulasi dan liberalisasi makin terasa pasca reformasi. Dimulai dengan ditandatanganinya LoI (Letter of Intent) dengan IMF, Undang-Undang Indonesia makin liberal, dan para pemilik modal, baik local maupun internasional mulai dimanjakan dengan disahkannya UU-UU tersebut. Sebut saja UU No.22/2001 tentang minyak dan gas bumi, UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Perpres no.77 tahun 2007, UU BHP, UU BUMN dan masih banyak lagi.

Kini, di tahun 2008, Indonesia kembali mengalami krisis. Naiknya harga pangan dan minyak di pasaran internasional, membuat pemerintah Indonesia ‘kelabakan’ dan ‘mau tidak mau’ melakukan hal yang sama di dalam negeri. Suatu konsekuensi dari dilaksanakannya neoliberalisme di negeri ini. Negeri yang tengah menata kembali dirinya dihantam lagi dengan gejolak. 24 Mei 2008 Pemerintah secara resmi mengurangi subsidi BBM dan mengakibatkan kenaikan harga sebesar 28,7%. Tekanan APBN dalam membiayai subsidi menjadi salah satu alasannya. Ini adalah kebijakan kenaikan BBM yang ketiga dalam 4 tahun terakhir, sebelumnya, pada tahun 2005, sempat terjadi 2 kali kenaikan harga BBM. Persoalan tidak berhenti sampai disini, naiknya harga BBM tentu mengimbas pada naiknya harga barang kebutuhan pokok, seperti pangan, sarana kesehatan, pendidikan, transportasi dan sebagainya. Rakyat miskin bertambah, sektor-sektor pokok kehidupan menjadi tidak terjamah, pengangguran meningkat, terjadi deindustrialisasi, lesunya pertumbuhan ekonomi riil dan angka bunuh diri yang makin memprihatinkan hanya secuil fakta yang menggambarkan penderitaan rakyat dan menunjukkan betapa tidak beresnya pengurusan negeri ini.

Itu baru dari sisi ekonomi, dari bidang kesehatan (atau lebih tepatnya pertahanan), kita mendengar sengketa mengenai status NAMRU 2 yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun di negeri ini masih diperdebatkan. Apakah izin operasionalnya akan dicabut atau tidak.

Dari bidang pendidikan, aroma privatisasi pun tercium. Melalui UU BHP yang baru saja disahkan namun entah kenapa penerapannya telah terlihat di perguruan tinggi ini sejak beberapa tahun lalu, peran Negara diminimalisir sedemikian rupa sehingga memungkinkan sector swasta bermain lebih dinamis. Perlu dicatat, dengan bebasnya permainan pihak swasta dan minimnya proteksi Pemerintah, pendidikan yang seharusnya berhak dinikmati oleh setiap warga Negara seperti yang tercantum pada pasal 31 UUD 1945 akan berubah menjadi komoditas. Pendidikan adalah barang dagangan yang harus ‘dibeli’. Tidak peduli apakah seluruh masyarakat mampu membelinya atau tidak. Akhirnya yang terjadi kemudian adalah hukum rimba, persaingan tanpa akhir karena hanya dapat dimenangkan oleh orang-orang berduit. Tercipta jurang pemisah yang lebar dan semakin lebar tidak hanya antara si kaya dan si miskin namun juga antara si pintar dan si bodoh.

Tidak bosankah negeri ini dengan itu semua? Tidak lelahkah para pemimpin negeri ini melihat rakyat mereka didera penderitaan dan kesengsaraan sekian lama? Tidak terketukkah hati mereka melihat ratusan bayi menangis kelaparan setiap hari? Melihat ribuan anak-anak yang seharusnya mengenyam pendidikan malah terpenjarakan dalam kerasnya jalanan? Mau jadi apa bangsa ini jika itu semua terus terjadi?

Masihkah para penguasa kita yang duduk di atas sana berpikir untuk tetap mempertahankan kapitalisme di negeri ini ? Ataukah mereka sedang sibuk membungkus ganasnya wajah kapitalisme dengan coreng moreng badut-badut lucu ?

Menyedihkan ! Memuakkan !

Sudah saatnya negeri ini bangkit ! Bukan dengan kapitalisme yang dengan suksesnya telah membawa dunia pada krisis global berkepanjangan dan mengamini perbudakan, bukan pula dengan sosialisme yang bercita-cita menghilangkan perbedaan kelas2 masyarakat namun malah menempuh jalan pembantaian seperti kita saksikan di Uni soviet abad lalu, namun dengan satu peraturan sempurna, yang mulia, yang diciptakan Allah SWT, Sang pencipta manusia dan alam semesta.

Islam, Rahmatan lil ‘Alamin. Penerapannya telah terbukti mengangkat peradaban manusia selama 1300 tahun. Silakan bongkar catatan sejarah yang ditutup-tutupi mengenai Khilafah Islamiyyah, maka akan terlihat betapa Islam membuktikan dirinya sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Kini, adalah zaman kita. Saat nafas kita masih terhembus, saat itulah kewajiban ada di pundak kita. Perjuangan itu keniscayaan. Dan waktu akan membuktikan, apakah kita termasuk para pajuang?

Atau bukan? []

Kaleidoskop Mahasiswa, Dulu dan Sekarang

[May 08]
Nah, ini hasil editannya,, berubah banget gak?^^




11 tahun lalu, dunia menjadi saksi tumbangnya rezim otoriter sangat represif yang telah berkuasa selama 32 tahun di Indonesia. Jangan pernah anggap remeh kekuatan rezim ini, karena pilar-pilar penyokongnya tidak hanya tertancap di nusantara, namun bercokol dii seantero dunia. Siapa yang menyangka kekalahan diktatorian ini sedikit banyak dipicu ‘hanya’ oleh aksi yang dimotori mahasiswa? Namun begitulah faktanya. Mahasiswa berhasil mendobrak gerbang reformasi.

30 tahun lalu. 1977, satu sejarah yang tak banyak diketahui dunia. Penyerbuan kampus-kampus di Indonesia, termasuk ITB. Tak tanggung-tanggung, tentara yang ditugaskan ‘membersihkan’ kampus adalah Kodam VIII Brawijaya, suatu ‘pasukan perang’ yang baru saja pulang bertugas dari Timor Timur. Terlihat bahwa gerak represif pemerintah terhadap kampus disebabkan aksi terlalu peduli mahasiswa dalam mengkritisi pelaksanaan pemilu ketiga di Indonesia saat itu.

Saat itu mahasiswa dikenal sebagai satu strata di masyarakat yang mampu menunjukkan taringnya melawan represivitas rezim, membela satu nilai idealitas dan menyuarakan kebenaran.

Namun..

Tahun 2000, ITB memulai program separuh BHMN sebagai kampus pertama yang melakukan langkah awal BHMN-isasi kampus se-Indonesia. Sesuatu yang jelas termasuk langkah-langkah privatisasi pendidikan yang merugikan masyarakat. Mahasiswa diam.

Tahun 2006, tambang minyak baru nan melimpah ruah ditemukan di Cepu, namun entah mengapa, pengelolaan (baca:pemanfaatannya) harus mengikuti perbandingan 45:55 antara Pertamina dengan Exxon Mobil milik AS. Mahasiswa bungkam.

Tahun 2008, masalah BLBI mencuat kembali. Tak tanggung-tanggung, negara merugi 400 trilyun lebih! Selain itu, juga tersiar kabar rencana swastanisasi PLN ditengah kondisi masyarakat yang kian sulit, terbukti dengan kasus kelaparan yang terjadi di Makasar. Mahasiswa kembali tenggelam. Arus mahasiswa yang bergerak lebih kecil dibanding arus mahasiswa yang lebih sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Lalu Kita?

Kawan, aku hanya mencoba menuliskan kembali serentetan peristiwa yang pernah terjadi, dan membandingkannya dengan keadaan kita saat ini. Aku gelisah. Persoalannya adalah, cukup pedulikah kita melihat ketidakpedulian mahasiswa?! Tidak hanya di ITB, tapi juga di pelosok kampus seantero tanah air. Pedulikah kita melihat tingkat ‘kepedulian’ mahasiswa terhadap masyarakat yang makin tereduksi, dan hanya menyisakan sedikit rasa peduli dalam diri sendiri?! Atau justru saat ini kita tengah terbuai menikmati dan ikut ambil bagian dalam komunitas ini?! Komunitas yang siklus berpikir dan bertindaknya beriorientasi hanya pada profit. Pada keuntungan. Pada nilai tanpa makna. Komunitas yang sepakat bahwa ‘kuliah’ adalah perdagangan, bisnis. yang keuntungannya akan dipetik ketika telah bekerja pada perusahaan-perusahaan bonafid dengan gaji puluhan juta rupiah.

Jika pola berpikir seperti itu telah mengakar urat pada mahasiswa negeri ini, wajar jika kehidupan kampus hanya diisi kegiatan ‘belajar’ dan ‘bersenang-senang’, yang diakhiri dengan pencarian koneksi untuk menemukan ‘lapangan pekerjaan’. Selesai. Sedikit sekali esensi yang dapat diambil apalagi dirasakan oleh masyarakat. Lantas kalau begitu, apa bedanya kampus kita ini dengan lembaga kursus, yang khusus mencetak karyawan-karyawan professional?! Murni knowledge transfer, tanpa value.

Kawan, kampus bukan sekedar wahana untuk mempelajari kalkulus, fisika, kimia, sistem utilitas, termodinamika, dsb. Tidak hanya itu. Namun lebih dari semuanya, kampus merupakan wahana untuk mempelajari kehidupan. Mempelajari masyarakat, dan mengaplikasikan segala macam ‘ilmu’ yang kita dapat di kelas ke dalam kehidupan kita, Masih ingat saat OSKM dulu?! Sering sekali dikumandangkan bahwa kita adalah segelintir orang yang beruntung dapat merasakan status dan fasilitas intelektual sebagai mahasiswa. Kita-lah orang-orang yang beruntung berstatus mahasiswa ITB dibadingkan 238 juta penduduk Indonesia. Kita-lah tumpuan harapan masyarakat untuk mengatasi segudang masalah yang tengah merajalela! Kita! Bukan orang lain! Wajar bukan jika kukatakan kita punya kewajiban untuk menolong masyarakat, dan meningkatkan kemajuan peradaban manusia. Setuju denganku?!

Persoalannya, apakah mungkin kita mengatasi permasalahan masyarakat jika kita tidak pernah peduli dengan itu semua? Tidak pernah peduli dengan akar permasalahan masyarakat? Atau bila kita hanya melulu disibukkan dengan ‘karir akademik’ ditambah mimpi ‘karir bonafid’ di masa depan?
Apa, Mengapa dan Bagaimana..

Kawan, ‘Ilmu’ yang kita pelajari setengah mati selama 4 tahun di kampus ini bukanlah segalanya. Ia hanya berperan sebagai tools. Alat. Kita-lah yang menentukan, digunakan untuk apakah alat itu. Tak jauh berbeda halnya seperti pisau tajam, yang dapat digunakan untuk membunuh orang atau sekedar untuk memotong kentang.

Setajam apapun alat yang kita miliki tidak akan berarti apapun jika kita tidak tahu cara penggunaannya. Jika kita hanya memfokuskan pencapaian diri kita pada penguasaan ilmu itu saja, tanpa memahami esensi dan filosofi ‘akan digunakan untuk apa ilmu ini’, nothing’s we get! Orang lain yang akan mengarahkan kita, dan kita akan selalu menjadi ‘pekerja’. Mungkin memang kita akan mendapat gaji puluhan juta dari Caltex atau Schlumberger, tapi benarkah hanya materi yang kita cari?! Bukankah Allah sendiri telah menawarkan surgaNya yang seluas langit dan bumi? Dan ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amal jariyah yang tidak pernah berhenti mengalir pahalanya, selamanya.

Kawanku Mahasiswa ITB, aku yakin, kita semua telah cukup dewasa untuk memahami esensi penciptaan diri kita. Tak perlu lagi dibahas panjang lebar bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya bukan?! Aku pun yakin, bahwa kawan semua telah menyadari bahwa saat ini masyarakat tengah berada dalam keadaan terpuruk. Sakit secara multidimensional. Masalah publik bangsa tidak bisa diselesaikan dengan baik dan menyebabkan penderitaan disana sini. Pendidikan, kesehatan, energi dan listrik, pelayanan umum, ekonomi, dan masih banyak lagi masalah yang melingkupi masyarakat. Ketidakadilan terjadi dimana-mana, dan rakyat tidak dapat berbuat apa-apa melihat kekayaan alam negerinya dirampok tangan-tangan asing yang merajalela. Mengalirkan air mata penderitaan.

Kawanku mahasiswa ITB, tidak dapat dipungkiri, posisi kita sebagai manusia yang diamanahi kecerdasan dan intelektualitas tinggi ditambah dengan status mahasiswa di Institut ternama yang ‘didengar’ di negeri ini memiliki kekuatan tersendiri.

Masyarakat membutuhkan kita, kaum intelektual yang akan menyelamatkan dan memperbaikii peradaban. Bukan intelektual mahacerdas yang terpenjara dalam kenikmatan gelimang gajji sekian-sekian, atau hasil penelitian ‘yang dipesan’ dan hanya teraplikasi oleh asing tanpa mengakomodir kepentingan masyarakat.

Rakyat membutuhkan kita, sekarang!

Mahasiswa Apatis, Kamu?


[April 08]
versi asli dari tulisan yang disebar di kampus 'Kaleidoskop Mahasiswa, Dulu dan Sekarang'



Bismillah..

22:41..


Artikel ini hanya baris kata-kata yang ditulis oleh seorang mahasiswa, tentang mahasiswa dan untuk dibaca oleh mahasiswa..

Kaleidoskop ‘Zaman Dahulu’ dan Sekarang

‘Zaman dahulu’, 11 tahun lalu, dunia menjadi saksi tumbangnya rezim otoriter sangat represif yang telah berkuasa selama 32 tahun di Indonesia. Jangan pernah anggap remeh kekuatan rezim ini, karena pilar-pilar penyokongnya tidak hanya tertancap di nusantara, namun bercokol di seantero dunia. Siapa yang menyangka kekalahan diktatorian ini sedikit banyak dipicu ‘hanya’ oleh aksi yang dimotori mahasiswa? Namun begitulah faktanya.

Masih ‘zaman dahulu’, 30 tahun lalu. 1977, satu sejarah yang tak banyak diketahui dunia. Penyerbuan kampus-kampus di Indonesia, termasuk ITB. Tak tanggung-tanggung, tentara yang ditugaskan ‘menyerbu’ kampus adalah Kodam VIII Brawijaya, suatu ‘pasukan perang’ yang baru saja pulang bertugas dari Timor Timur! Terlihat bahwa gerak represif pemerintah terhadap kampus disebabkan ‘aksi terlalu peduli’ mahasiswa dalam mengkritisi pelaksanaan pemilu ketiga di Indonesia.

Aku hanya mengutip 2 peristiwa yang terjadi pada ‘zaman dahulu’.

Sekarang, mari kita perhatikan keadaan saat ini. Sederet peristiwa telah terjadi, namun, apakah mahasiswa peduli?!

Tahun 2000, ITB memulai program separuh BHMN sebagai kampus pertama yang melakukan langkah awal BHMN-isasi kampus se-Indonesia. Hal ini jelas termasuk langkah2 privatisasi pendidikan yang merugikan masyarakat. Mahasiswa diam.

Tahun 2006, tambang minyak baru nan melimpah ruah ditemukan di Cepu, namun ‘entah mengapa’, pengelolaan (baca:pemanfaatannya) harus mengikuti perbandingan 45:55 antara Pertamina dengan Exxon Mobil, AS. Mahasiswa bungkam.

Tahun 2008, masalah BLBI mencuat kembali. Tak tanggung-tanggung, negara merugi 400 trilyun lebih! Selain itu, juga tersiar kabar rencana swastanisasi PLN, ditengah kondisi masyarakat yang kian sulit dan terbukti dengan kasus kelaparan yang terjadi di Makasar. Apakah mahasiswa bersuara?

Lalu Kita?

Kawan, aku hanya mencoba menuliskan kembali serentetan peristiwa yang pernah terjadi, dan membandingkannya dengan keadaan kita saat ini. Persoalannya adalah, cukup pedulikah kita melihat ketidakpedulian mahasiswa selama ini?! Tidak hanya di ITB, tapi juga di pelosok kampus seantero tanah air. Pedulikah kita melihat tingkat ‘kepedulian’ mahasiswa terhadap masyarakat yang makin tereduksi, sehingga hanya menyisakan sedikit rasa peduli pada diri sendiri?! Atau justru saat ini kita tengah terbuai menikmati dan ikut ambil bagian dalam komunitas ini?! Komunitas yang siklus berpikir dan bertindaknya beriorientasi hanya pada profit. Pada keuntungan. Pada nilai tanpa makna. Komunitas yang sepakat bahwa ‘kuliah’ adalah perdagangan, bisnis. yang keuntungannya akan dipetik ketika telah bekerja pada perusahaan2 bonafid dengan gaji puluhan juta rupiah.

Jika pola berpikir seperti itu telah mengakar urat pada mahasiswa negeri ini, wajar jika kehidupan kampus hanya diisi kegiatan ‘belajar’ dan ‘bersenang-senang’, yang diakhiri dengan pencarian koneksi untuk menemukan ‘lapangan pekerjaan’. Selesai. Sedikit sekali esensi yang dapat diambil apalagi dirasakan oleh masyarakat, oleh umat. Lantas kalau begitu, apa bedanya kampus kita ini dengan lembaga kursus, yang khusus mencetak karyawan-karyawan professional?! Murni knowledge transfer, tanpa value.

Kawan, kampus tidak hanya wahana untuk mempelajari kalkulus, fisika, kimia, sistem utilitas, termodinamika, dsb. Tidak hanya itu. Namun lebih dari semuanya, kampus merupakan wahana untuk mempelajari kehidupan. Mempelajari masyarakat, dan mengaplikasikan segala macam ‘ilmu’ yang kita dapat di kelas dalam kehidupan kita, Masih ingat saat OSKM dulu?! Sering sekali dikumandangkan bahwa kita adalah segelintir orang yang beruntung dapat merasakan status dan fasilitas intelektual sebagai mahasiswa. Kita-lah orang-orang yang beruntung berstatus mahasiswa ITB dibadingkan 238 juta penduduk Indonesia. Kita-lah tumpuan harapan umat untuk mengatasi segudang masalah yang tengah merajalela! Kita! Bukan orang lain! Wajar bukan jika kukatakan kita punya kewajiban untuk menolong umat, dan meningkatkan kemajuan peradaban manusia. Setuju denganku?!

Persoalannya, tidak mungkin kita mengatasi masalah umat bila kita tidak pernah peduli dengan keadaan masyarakat. Dengan akar permasalahan masyarakat. Atau bila kita hanya melulu disibukkan dengan ‘karir akademik’ ditambah mimpi ‘karir bonafid’ di masa depan.

Islam bilang..
Sebelumnya, jangan underestimate dengan sub judul diatas. Masalah kemahasiswaan pun masalah yang terkait dengan Islam. Sangat terkait bahkan. Islam sangat mendukung kemajuan ilmu pengetahuan sangat mencintai orang berilmu dan mendorong manusia untuk mencari ilmu setinggi-tingginya (QS. Al-Mujadilah:11, HR. Tirmidzi, dll).

Masalahnya, Islam tidak hanya mewajibkan manusia mencari ilmu saja, tapi juga menuntut pengaplikasiannya dalam kehidupan. Tidak hanya dalam kehidupan individual, namun juga dalam masyarakat. Bukankah sebaik-baiknya ilmu itu adalah ketika ia telah diamalkan? Tidak hanya sekedar merambah ranah teoretis menjadi lembar-lembar jurnal yang memenuhi sudut perpustakaan.

Kawan, ‘Ilmu’ yang kita pelajari setengah mati selama 4 tahun di kampus ini bukanlah segalanya. Ia hanya ‘tools’. Alat. Kita-lah yang menentukan, digunakan untuk apakah alat itu.. Tak jauh berbeda halnya seperti pisau tajam, yang dapat digunakan untuk membunuh orang atau sekedar untuk memotong kentang.

Setajam apapun pisau, atau ‘tools’ yang kita miliki tidak akan berarti apapun jika kita tidak tahu cara penggunaannya. Jika kita hanya memfokuskan pencapaian diri kita pada penguasaan ilmu itu saja, tanpa memahami esensi dan filosofi ‘akan digunakan untuk apa ilmu ini’, nothing’s we get! Orang lain yang akan mengarahkan kita, dan kita akan selalu menjadi ‘pekerja’. Mungkin memang kita akan mendapat gaji puluhan juta dari Caltex atau Schlumberger, tapi benarkah hanya materi yang kita cari?! Bukankah Allah sendiri telah menawarkan surgaNya yang seluas langit dan bumi? Dan ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amal jariyah yang tidak pernah berhenti mengalir pahalanya, selamanya.

Kawanku Mahasiswa muslim ITB, aku yakin, kita semua telah cukup dewasa untuk memahami esensi penciptaan diri kita. Tak perlu lagi dibahas panjang lebar bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya bukan?! Aku pun yakin, bahwa kawan semua telah menyadari bahwa saat ini umat Islam tengah berada dalam keadaan terpuruk. Sakit secara multidimensional. Masalah publik umat tidak bisa diselesaikan dengan baik dan menyebabkan penderitaan disana sini. Pendidikan. Kesehatan. Energi dan listrik. Pelayanan umum. Ekonomi. Dan masih banyak lagi masalah yang melingkupi umat. Ketidakadilan terjadi dimana-mana, dan umat islam tidak dapat berbuat apa-apa melihat kekayaan alam negerinya dirampok tangan-tangan asing yang entah kenapa, ada dimana-mana. Mengalirkan air mata penderitaan.Tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia.

Kawanku mahasiswa muslim ITB, tidak dapat dipungkiri, posisi kita sebagai manusia yang diamanahi kecerdasan dan intelektualitas tinggi ditambah dengan status mahasiswa di Institut ternama yang ‘didengar’ di negeri ini memiliki kekuatan tersendiri.

Umat membutuhkan kita, intelektual muslim yang akan menyelamatkan dan memperbaiki peradaban. Bukan intelektual mahacerdas yang terpenjara dalam kenikmatan gelimang gaji sekian-sekian, atau hasil penelitian ‘yang dipesan’ dan hanya teraplikasi oleh asing tanpa mengakomodir kepentingan umat..

Umat membutuhkan kita, sekarang!

00:57

Hanya sedikit bicara tentang budaya Indonesia

[May 2008--hanya baru diposting skarang..^^]

Menganalisis kondisi budaya Indonesia, berarti banyak berbicara mengenai pergeseran nilai dan orientasi hidup masyarakat Indonesia.


Serangan Kapitalisme di Indonesia telah merambah ke arah sektor budaya masyarakat. Kapitalisme merupakan ideologi dan karenanya memiliki cara pandang tertentu mengenai kehidupan. Masyarakat kapitalis, memandang bahwa kemanfaatan, kebahagiaan dan tujuan hidup diimplementasikan dalam bentuk profit (keuntungan) material yang didapat sebanyak-banyaknya. Karena itulah, tidak heran jika orientasi dan tujuan masyarakat yang telah dipengaruhi oleh ideologi ini tidak akan jauh dari kemanfaatan materi yang dapat diperoleh.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa budaya serba instan dan ikut-ikutan seolah tak dapat dilepaskan lagi dari kepribadian bangsa Indonesia saat ini. Local Wisdom tereduksi hanya pada wilayah pedesaan, dan masyarakat perkotaan lebih didominasi oleh nuansa individualistik, hedonistik dan apatistik.

Ya Gak??