Tampilkan postingan dengan label bicara tentang aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bicara tentang aku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2009

Kubilang, Pergi!!

tarian burung warna jingga warnai seburat malu-malu pagi hari..
kali ini tak kupalingkan wajahku dari dosa terlarangnya,, mencoba menikmati sentuhan warna hitam dan abu2 diatas putihnya lembaran kain yang kusebut sebagai perhiasan

aku nikmati tawa bengisnya, karena penderitaan bagiku adalah kenyamanan tiada banding dan senyuman adalah ancaman yang tak pernah ku tahu apa artinya..
kujauhi wajah bersih penuh kepura2an yang mungkin terlukis karena otak jalangku memikirkannya.. kasihan, wajah itu jadi ternoda.. tapi tak apa2,, aku tak peduli!

biar saja dia pergi lari dariku yang tak pernah bisa ia mengerti.. tidak apa2 karena aku tahu cintaku akan membasahi hatinya dengan balutan rindu dan kenangan sepanjang waktu..

layang-layang putus yang terbuai angin tak tentu arah kini mulai menatap rintihan ombak samudera yang memanggilnya dalam gelap dan dingin, mencekam, membasahi tubuh kertasnya dengan balutan air asin bercampur garam yang perlahan merobek srluruh pertahanan dirinya hingga tak tersisa apapun kecuali rangka2 menyedihkan yang menyisakan segenap cerita bahwa ia pernah ada..

pekatnya malam membelenggu sang bulan tuk tersenyum, ia hanya dapat menatap dengan mata bulatnya ratusan kupu2 yang berlari tak tentu arah memperkosa keindahannya sendiri dengan robekan sayap dan tarian yang mengundang satu kehidupan bernama ajal..

riakan air menelan seribu pusaran dalam birunya yang mematikan, tak terlihat menyenangkan namun tetap menghoda aku untuk menyentuh dan menenggelamkan diriku dalam tubuhnya..
membiarkan ia menelanku

satu kali saja.

satu mata panah menyempatkan dirinya mengoyak diriku,, menikmati hancurnya perlahan dan segera jutaan mata panah lain menelan tubuh ku sepenuhnya..
sudahlah, rangkaian huruf tak berarti ini takkan memiliki makna jika tak kuberikan jiwaku padanya.. tapi masalahnya, jiwaku hanya satu,, haruskah kutukar tempat bersemayamnya dari ragaku? haha, mungkin itu pilihan terbaik..

Aku benci gelak2 tawa dan binar2 mata munafik yang mengelilingiku dan menipuku.. dan tenggelam dengan buntalan rasa kecewa yang meracuni diriku sendiri tanpa henti.. Aku akan membunuhnya!

delapan buah mata pisau meraih arah mata anginnya masing2,, satu untuk dirinya,, namun sepasang kakatua yang terlihat mesra menanti kematiannya tak juga sabar menunggu senja.. menunggu menangnya gelap yang menelan matahari dan membuatnya merayu dirinya sendiri,, untuk mati!

Sudahlah, aku tak ingin mengulanginya lagi!

PERGI!!

Jumat, 16 Januari 2009

Feel Guilty..

Don't know what to say..
just wanna share my feeling this week..

Hhh..

Sabtu, 10 Januari 2009

Jangan Manja, Nia!


Ya, ini hidupku..

Yang masih diberikan padaku tepat ketika aku ingin mengakhirinya bertahun-tahun lalu.. Perjalanan yang takkan pernah hilang bekasnya..


Tapi, lihat aku sekarang! Aku hidup!

Jika Allah saja berkenan memberiku nafas yang masih tersambung tak terputus, maka apa hak dunia menolakku??


Berat ya?! Tapi ini pilihan.


Jangan nangis,,

Jangan manja, Nia!

Jumat, 09 Januari 2009

Unforgettable April

[April 02--saat detik hidupku berdetak lagi]

Desiran angin lembut sore hari di penghujung April membelai poni rambut pendeknya. Ia diam. Gadis kecil sipit berponi itu tak sedikitpun terganggu oleh angin yang kini mulai keras menepuk-nepuk pipinya. Pikirannya sibuk dengan hal lain,, hal yang mustahil singgah di kepalanya 5 menit lalu. Jauh, jauh sekali, senampak Belomorsk menatap Olovyannaya. Namun secepat eskalasi metafora alam semesta, derik transmisi neuron itu berkenan singgah sejenak di otaknya. Memberikan setitik jejak.

Mengubah dunianya.

Keputusan itu tiba! Tiba-tiba muncul membujuknya, merayu hatinya, melayangkan satu harapan tak pasti yang entah darimana datangnya dan membulatkan satu tekad dengan daya survival luar biasa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Keputusannya untuk mendekatkan dirinya pada Sang Pencipta—hal yang amat tak terjangkau pikirnya. Yang tersimbolkan dengan ketaatan seorang wanita mengenakan helaian kain di atas rambut. Bagi dunia, mungkin itu sederhana. Tapi baginya, itu segalanya. Lebih dari hidupnya. Bukti dari segala janji yang tak pernah ia ketahui dapat ia penuhi atau tidak. Tanda dari segala ikrar untuk membuang seluruh kehidupannya. Membuang jauh-jauh pribadinya dan memulai semuanya dari awal lagi. Sekaligus bahagia karena Tuhan masih berkenan menyentuh hatinya.

Ditatapnya cermin lama-lama. Ada wajahnya sendiri disana. Dipandanginya pelan-pelan sepasang mata sipit yang terpantul sempurna diatas kaca.

Perlahan pandangannya mengabur, tergantikan dengan pemandangan tawa riuh. Lelaki dan perempuan. Bercampur baur. Ribut. Senang. Ia berdiri di tengah perhatian. Menarik. Dengan satu tindikan di telinga kanan. Tertawa keras. Menikmati semuanya.

Pemandangan makin buram dan berganti. Sepasang lelaki dan perempuan berjalan bergandengan tangan. Dekat. Mesra. Lama sekali. Jelas Ia disana, menggenggam tangan kekasihnya. Cintanya. Jiwanya.

Cermin kembali berubah. Kali ini semrawut asap rokok dan hingar bingar deru motor bersahut-sahutan. Sesekali teriakan dan umpatan keras terdengar. Perkelahian berebut ada di sekelilingnya. Lagi-lagi ia pun disana. Ikut ambil bagian tentunya. Teriakannya terdengar. Menertawakan mereka.

Lalu perlahan bayang-bayang itu mengabut. Kini terlihat seorang gadis tergeletak lemah bersimbah darah. Pergelangan tangan kirinya bergurat-gurat tersayat. Terlihat sebatang cutter tergenggam di tangan kanan. Haha, korban sinetron rupanya. Matanya sembab. Namun bibirnya tertawa. Tertawa melihat betapa bodohnya ia menghancurkan hidupnya sendiri. Menghujani dirinya sendiri dengan dosa dan air mata. Meneror hatinya dengan satu kegelisahan yang tak pernah ia temukan jawabannya mengapa. Air mata mengalir. Ia teringat kekasihnya. Teringat teman-temannya. Teringat mereka semua meninggalkannya. Kini ia hanya punya satu keinginan. Mengakhiri 14 tahun keberadaannya di dunia—ha, rupanya ia masih muda—seperti halnya keadaan dan kebodohan telah mencabik-cabik masa depannya.

Lalu tiba-tiba semua bayang-bayang itu hilang.

Ia diam menatap cermin.

Kini ia disini. Hidup. Tuhan belum menginginkannya pergi. Ia kini mengerti adanya mozaik dan rahasia ia tak dibiarkan mati.

Bahwa ia berarti.

’Jika Tuhan saja tidak menginginkan aku mati, maka dunia tidak berhak mengusirku pergi’

Perlahan ia menghela nafas dan satu kekuatan baru menerobos jiwanya. Tenteram membuai hatinya sekaligus menebaskan semua keraguan dan ketakutan yang ada. Matanya berkilat. Kini ia tak takut apa-apa lagi. Hanya Dia-lah harapannya. Alasan keberadaannya. Kehidupannya. Dan untuk itu, tanpa ragu lagi ia bersedia meninggalkan semuanya, masa lalunya, dan mengubah dirinya. Saat itu bulan April. Dan ia ingin menghadapi dunia. Sekali lagi.

Matahari April menatapnya dalam dan kembali mendesirkan anginnya. Ia tersenyum. Langkahnya kini ringan sekali.

[for the best power and inspiration]

Kamis, 08 Januari 2009

Mengejar Matahari


[Maret 2007--guratan kata yang terus mengalir dari lengan yang tak dapat ku kendalikan]


Sekarang aku sendiri, berlari..

Mengejar matahari..

Aku lelah, nafasku berdesah patah-patah dengan te;lapak kaki terbajar, pedih terkelupas.. Namun matahari itu masih jauh dari genggaman..

Ia menggodaku..

Menantangku mengejarnya dengan tamparan sinarnya di wajah pucatku, mengejekku dan mengatai ketidakmampuanku mengejar sosoknya..

‘Haha, pengecut! Tangkap aku!’

Tangan ringkihku terulur, mencoba meraihnya, namun tak jua kurasakan panas membara sang matahari pada jemari hitamku..

Segenggam silau padamkan sadarku, menjemputku dalam buaian angin padang gurun nan garang, mengangkat separuh harga diri yang terserak patah, menghamburkannya, berantakan, seperti abu-abu kosmik saat pertama diciptakan..

Hilang dalam ketiadaan..

Rangkaian embun pagi hadirkan secercah harapan, sekilas saja.. Secepat angin barat daya yang serentak datang mengacaukannya.. Serupa derap kuda-kuda perang memperkosa damai tenang mimpi bayi dalam buaian sang fajar..

Keras! Merusak!

Damai di kepalaku hancur oleh ilalang yang mendadak tumbuh disana..

Banyak!

Padat!

Deru dentam kemahsyuran Baginda Raja tak ubahnya rengek isak ulat-ulat manja yang iri pada kupu-kupu..

Daun-daun bergemerisik hilangkan iramanya, malawan kehendak menjadi hijau, memicingkan sebelah mata, separuh jiwa, merangsek cepat, menjadi cokelat, menanti hilang, terjatuh ditempa angin senja hari.., menghias simfoni negeri 4 musim sebelum putih salju mewarnai wajah-wajah pagi..

Seorang gadis terduduk mesra, dengan binar merah muda, menanti ucap srindu kekasih tercinta, dalam hatinya yang perawan.., menisik hari, menyulamnya dengan benang-bennag pengharapan, mengunjungi kelamnya danau hati, memercikan aroma kepercayaan dan cinta..

Anak-anak kecil berlari mengejar bola, di sudut desa, tertawa gembira, tak peduli apa yang menanti mereka di ujung sana..

Segayung murka tumpa tersandung kupu-kupu yang alpa menjalankan tugasnya mengisap sari bunga, basah membasahi kepala sang pencuri yang hendak pergi. Hadirkan satu kesadaran tentang kebenaran hakiki yang selama ini ia cari!

Senandung pilu anak gembala, menangisi kerbaunya yang terbaring kelelahan, mengharap bantuan, mengidamkan pembalasan pada angkara tak bertuan, tangan-tangan penjajah yang merobek nasibnya, menyisakan serpihan kemiskinan yang harus puas dilakoninya..

Derit kelelawar memanggang cekam! Ditambah pekik purnama dan belaian mesra kabut-kabut petang, auman serigala negeri antah berantah menyertai pedihnya nisan-nisan tak bertuan.., nisan-nisan terlupakan..

Dan anak itu, yang menangis terlunta-lunta di jalanan hanya karena ingin makan, terpaksa menelan segenggam pil kehidupan yang terpatri kuat dalam ingatan, ‘yang kaya selalu menang!’

Ini yang disebut kehidupan!

Kualihkan pandangan, kulihat para anggota dewan berdasi kupu-kupu, perlente, dengan perut kekenyangan dan kening berlipat memikirkan daftar pesanan sang permaisuri.., peluh menghiasi, menguatkan sepasang tangan untuk membubuhkan tanda tangan terlarang..

Pekik gembira membahana, membanjiri dunia dengan berlinangan gemerlap lamu warna-warni.., dentuman musik membius diri dan merasuki hati untuk menari.. terus, sepanjang malam.. Menanti pagi..

Sepotong meja kayu mahoni hitam berkilat terserak manja di pusat, menggertak marah, meminta perhatian sang manusia-manusia penari.., gelas-gelas kristal angkuh berisi cairan bahagia berjejer berderet-deret.., cantik.., menggoda..

Kerikil-kerikil kecil senantiasa ada, mengganjal langkah sesosok wanita berbaju tebal! Langkah terseok meninggalkan gurat-gurat kesedihan, membayang wajah suami dan anak laki-lakinya yang telah tenang dala satu dunia yang berbeda.. 2 cinta yang terenggut karena idealisme. Kegigihan memang selalu dibayar mahal, apalagi jika berhadapan dengan otoritas berusia 32 tahun..

Dan inisial tak berujung ini tak lelah menggoreskan mimpi-mimpi, yang bagi anak kecil berperut lapar di kolong jembatan, adalah buah dongeng yang manis rasanya.. Berebut, egois, mencoba hilangkan ironi pada hati-hati putih yang diselimuti debu tebal 7 centi. Hilangkan gurat-gurat rasa malu, dan harga diri.. Melibasnya mati dan pergi..

Senandung syahdu pemain cello tenggelam dalam drama kepura-puraan dan lautan topeng-topeng palsu. Kemilau cahaya kejujuran hanya tampak di ujung-ujung pelangi, membias ke segala arah, melapas foton-foton yang angkuh melesat pergi, membawa jejak-jejak Einstein..

Eskalasi peradaban menemui paradoksnya. Ironi yang hiperbolis! Ia bersiklus amat pendek bergantung pada tonggak rapuh manusia. Mencemooh kuasa Sang Pencipta dan angkuh berlari menuju lumbung neraka. Derap irama peradaban berputar cepat, selayak roda menuruni lereng gunung, menyambut jurang menganga yang teramat elok dihiasi air terjun cantik berdera-derai..

Dan disinilah aku berdiri..

Sendiri..

Mengejar matahari..

Aku..

Kamis malam, minggu kedua Bulan Januari. Awal percakapan antara Aku dan Diriku.

Januari, keajaiban awal tahunku..


Aku
Siapakah aku? Ah, pertanyaan basi! Malu aku menjawabnya.. Memangnya selama 21 tahun ini aku hidup dengan identitas siapa? Bayang-bayang ?

Aku tahu, bermimpi itu menyenangkan.. Aku menyukainya.. Tapi aku sadar, terlalu lama ada di dunia para peri yang hidup hanya dalam sebongkah imajinasi tak pernah menyelamatkanku..
Meskipun kuakui aku bahagia. Ya. Aku bahagia.

Seringkali aku lupa. Aku hidup pada dunia nyata. The real world dimana mimpi-mimpi tidak punya tempat untuk menjadi pemain sendirian. Selalu ada realita dan fakta yang menemaninya. Tapi kenapa aku tak pernah peduli dengan itu semua?! Aku hanya sibuk mengurusi mimpi-mimpiku, hatiku, diriku..

Aku yakin, kau tahu kalau melankolis seperti aku tak pernah bisa menyuarakan pikirannya tanpa menyertakan perasaan?! Dan perasaan itu penuh dengan subjektivitas yang mengganggu objektifnya pikiranku. Kadang, jika kedua sudut pandang itu berperang, air mata selalu menjadi pelerainya. Melelahkan. Itulah yang membuatku malas berpikir lagi, karena itu hanya membuat perasaanku lelah dan mengabutkan kepalaku makin pekat.

Sudahlah, kamu pun pasti mengerti kalau seorang koleris seperti aku mencoba untuk peduli, yang akan kuciptakan dalam kepalaku hanyalah sebuah strata dimana aku menjadi rajanya.
Bukan raja, penguasa tepatnya. Dan fakta? Atau realita? Haha.., terkadang itu tak penting jika menghalangiku menjadi penguasa arena. Yang terpenting adalah lawan bicara dan tentu, cara mengalahkannya..

Dan sanguinis seperti diriku? Jangan harap bisa mendapat objektivitas darinya.. Yang menarik bagiku hanya bersenang-senang.. Tertawa.. bukan pusing memikirkan sesuatu yang tidak jelas akan memberikan tawa bagiku atau tidak..
Sudut pandangku bergantung pada pikiran lain yang bersamaku saat itu,, tentu,, karena orientasiku hanyalah menyenangkannya.. menyenangkan diriku juga tentunya..
Bibirku seringkali mengkhianatiku.. Ia dapat seenaknya tertawa meski hatiku sakit dibuatnya.. Ia dapat seenaknya tersenyum saat kepalaku berdenyut menahan semua air mataku.. Ia pengkhianat terbesarku.. karena itu, sanguinis seperti aku jangan pernah kau ajak bertukar pikiran, sebab seringkali ia hanya akan memancarkan hasil2 pengkhianatannya padaku..

Atau kau ingin menemukan diri plegmatisku? Pilihan buruk. Karena aku tak kan peduli pada masalahmu. Meski itu pun menyangkut hidup matiku. Sudahlah,, jangan repot-repot menemukanku,, aku tidak akan berguna bagimu.. Bukan, bukan karena aku tidak mampu, itu semua hanya karena aku tidak peduli padamu..-

Aku tahu mungkin aku bukan seseorang yang tepat untukmu. Kesedihanku hanya akan menahanmu dan membuat kau tak pergi untuk mengejar kebahagiaanmu. Maafkan aku karena egoisku. Aku hanya memikirkan aku dan cintaku, tanpa pernah peduli bahwa mungkin ada seseorang yang kau cintai lebih dari aku mencintaimu.


Ah, hanya tulisan kacau yang terinspirasi dari pikiran yang mulai kacau..